Kamis, 04 September 2014

Cerita : Jatuh Untuk Bangkit


Jatuh Untuk Bangkit
Oleh : Nuril Islam

Semua orang pasti pernah mengalami dan merasakan sebuah kegagalan. Seorang wirausaha yang gagal dalam menjalankan usahanya. Seorang yang gagal masuk ke sekolah yang diinginkannya. Begitu pun dengan diriku karena aku hanya manusia biasa. Kegagalan itu kurasakan bagai sebuah batu besar yang menghantamku. Teramat menyakitkan mungkin. Dan kegagalan itu harus aku rasakan di saat masa depanku sedang ditentukan.
Waktu itu akan diadakan ulangan harian. Matematika, salah satu mata pelajaran ujian. Seperti biasa, aku belajar. Memahami materi, menghafal dan mengingat rumus yang puluhan jumlahnya dan mengerjakan contoh soal. Aku merasa diriku sudah siap tapi ternyata…
Saat ulangan dimulai, saat soal ujian mulai dibagikan aku merasa aneh dengan diriku sendiri. Soal yang seharusnya mudah terlihat sangat sulit bagiku. Berkali-kali aku mencoba mengerjakan, namun aku tidak menemukan jawaban soal itu. Semua yang aku pelajari semalaman hilang tak berbekas. Keringat dingin membanjiri seluruh tubuhku. Aku benar-benar panik. Akhirnya aku mengerjakan soal itu semampuku, sebisaku. Aku pasrah apapun hasilnya nanti.
Singkat cerita, aku mendengar kabar ada satu anak yang remidi ulangan matematika kemarin dan anak itu adalah…aku. Saat namaku disebut, jantungku rasanya mau copot. Kurasakan runtuhan batu jatuh menimpaku. Antara malu, bingung, tidak percaya dan juga sedih. Aku hanya bisa diam dan memandangi angka yang tertulis jelas di lembar jawabku. Tujuh. Ya, angka tujuh. Sebatas itu yang aku peroleh. Masih jauh dari batas minimal nilai delapan koma lima.
Kejadian itu pun berbuntut panjang. Menjelang semester pertama ditingkat tiga, semangat belajarku meredup bagai lampu yang sudah kehabisan bahan bakar. Aku malas belajar, malas mengerjakan tugas sekolah, malas mengikuti pelajaran. Aku merasa semua itu tidak penting. Separuh diriku mencoba melawan. Berusaha keras untuk rajin belajar. Tapi entah mengapa semuanya terasa sia-sia. Dan entah dari mana pemikiran itu mulai muncul di benakku.
“Untuk apa semua ini? untuk apa aku harus mengerjakan soal matematika yang
sebegitu rumit jika saat aku bekerja nanti materi itu tidak akan terpakai? untuk apa aku belajar akuntansi jika nanti aku tidak akan bisa menjadi seorang akuntan?” Pikiran-pikiran itu sempurna menggerogoti semangat belajar dan hidupku. Walhasil, disemester pertama itu nilai raporku berubah seratus delapan puluh derajat. Di tahun sebelumnya aku selalu masuk rangking tiga besar tapi semester pertama itu aku masuk rangking tiga terbawah di kelas. Sebuah kenyataan yang menyakitkan.
Pikiran-pikiran dan semangat yang turun itu juga pernah dialami Ikal (tokoh dalam buku Sang Pemimpi, Andrea Hirata). Hingga ia pun berada di rangking terbawah. Namun Ikal bisa kembali semangat berkat kawan baiknya, Arai. Tapi aku? siapa yang bisa memberiku semangat? Siapa? Aku bahkan sudah berkali-kali menyemangati diriku sendiri tapi hasilnya… nihil.
Sampai suatu hari aku bertemu dengan Widya. Dia mengatakan sesuatu padaku. Kalimatnya menyadarkanku. Dia bilang, “Mungkin sekarang kamu ada di bawah. Tapi kamu harus yakin kamu bisa di atas lagi. Tunjukan kalau kamu bisa. Bukan untuk orang lain tapi untuk kamu, untuk masa depan kamu sendiri.”
Lama aku memikirkan kalimat Widya itu. Yah, mungkin Widya benar. Hidup ini seperti roda yang berputar. Bahwa yang di atas tidak akan selamanya di atas dan yang di bawah tidak akan selamanya di bawah. Saat ini aku memang di bawah dan suatu hari nanti pasti aku bisa kembali di atas.
Lewat kalimat bijak Widya aku memulai untuk bangkit kembali. Menapaki lagi jejak harapan masa depan yang sempat tertunda. Aku kembali rajin belajar. Mengikuti pelajaran dengan baik hingga sampai akhirnya aku bisa lulus dengan nilai yang cukup memuaskan.
Terima kasih Tuhan, atas kasih sayang yang tidak pernah putus Kau anugerahkan padaku. Terima kasih Widya, jika bukan karenamu mungkin aku tidak akan bisa melewati masa sulit ini. Terima kasih kawan.
Orang sukses bukanlah dia yang bisa mencapai apa yang menjadi ambisinya tapi orang sukses adalah dia yang bisa bangkit meski berkali-kali terjatuh.

Catatan akhir semester, Januari 2010

[ * ]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar