Jatuh Untuk Bangkit
Oleh : Nuril Islam
Semua orang pasti pernah mengalami dan
merasakan sebuah kegagalan. Seorang wirausaha yang gagal dalam menjalankan
usahanya. Seorang yang gagal masuk ke sekolah yang diinginkannya. Begitu pun
dengan diriku karena aku hanya manusia biasa. Kegagalan itu kurasakan bagai
sebuah batu besar yang menghantamku. Teramat menyakitkan mungkin. Dan kegagalan
itu harus aku rasakan di saat masa depanku sedang ditentukan.
Waktu itu akan diadakan ulangan harian.
Matematika, salah satu mata pelajaran ujian. Seperti biasa, aku belajar.
Memahami materi, menghafal dan mengingat rumus yang puluhan jumlahnya dan
mengerjakan contoh soal. Aku merasa diriku sudah siap tapi ternyata…
Saat ulangan dimulai, saat soal ujian
mulai dibagikan aku merasa aneh dengan diriku sendiri. Soal yang seharusnya
mudah terlihat sangat sulit bagiku. Berkali-kali aku mencoba mengerjakan, namun
aku tidak menemukan jawaban soal itu. Semua yang aku pelajari semalaman hilang
tak berbekas. Keringat dingin membanjiri seluruh tubuhku. Aku benar-benar
panik. Akhirnya aku mengerjakan soal itu semampuku, sebisaku. Aku pasrah apapun
hasilnya nanti.
Singkat cerita, aku mendengar kabar ada
satu anak yang remidi ulangan matematika kemarin dan anak itu adalah…aku. Saat
namaku disebut, jantungku rasanya mau copot. Kurasakan runtuhan batu jatuh
menimpaku. Antara malu, bingung, tidak percaya dan juga sedih. Aku hanya bisa diam
dan memandangi angka yang tertulis jelas di lembar jawabku. Tujuh. Ya, angka
tujuh. Sebatas itu yang aku peroleh. Masih jauh dari batas minimal nilai
delapan koma lima.
Kejadian itu pun berbuntut panjang.
Menjelang semester pertama ditingkat tiga, semangat belajarku meredup bagai
lampu yang sudah kehabisan bahan bakar. Aku malas belajar, malas mengerjakan
tugas sekolah, malas mengikuti pelajaran. Aku merasa semua itu tidak penting. Separuh
diriku mencoba melawan. Berusaha keras untuk rajin belajar. Tapi entah mengapa
semuanya terasa sia-sia. Dan entah dari mana pemikiran itu mulai muncul di
benakku.
“Untuk apa semua ini? untuk apa aku
harus mengerjakan soal matematika yang
sebegitu
rumit jika saat aku bekerja nanti materi itu tidak akan terpakai? untuk apa aku
belajar akuntansi jika nanti aku tidak akan bisa menjadi seorang akuntan?” Pikiran-pikiran
itu sempurna menggerogoti semangat belajar dan hidupku. Walhasil, disemester
pertama itu nilai raporku berubah seratus delapan puluh derajat. Di tahun
sebelumnya aku selalu masuk rangking tiga besar tapi semester pertama itu aku
masuk rangking tiga terbawah di kelas. Sebuah kenyataan yang menyakitkan.
Pikiran-pikiran dan semangat yang turun itu
juga pernah dialami Ikal (tokoh dalam buku Sang Pemimpi, Andrea Hirata). Hingga
ia pun berada di rangking terbawah. Namun Ikal bisa kembali semangat berkat
kawan baiknya, Arai. Tapi aku? siapa yang bisa memberiku semangat? Siapa? Aku
bahkan sudah berkali-kali menyemangati diriku sendiri tapi hasilnya… nihil.
Sampai suatu hari aku bertemu dengan Widya.
Dia mengatakan sesuatu padaku. Kalimatnya menyadarkanku. Dia bilang, “Mungkin
sekarang kamu ada di bawah. Tapi kamu harus yakin kamu bisa di atas lagi.
Tunjukan kalau kamu bisa. Bukan untuk orang lain tapi untuk kamu, untuk masa
depan kamu sendiri.”
Lama aku memikirkan kalimat Widya itu. Yah,
mungkin Widya benar. Hidup ini seperti roda yang berputar. Bahwa yang di atas
tidak akan selamanya di atas dan yang di bawah tidak akan selamanya di bawah.
Saat ini aku memang di bawah dan suatu hari nanti pasti aku bisa kembali di
atas.
Lewat kalimat bijak Widya aku memulai
untuk bangkit kembali. Menapaki lagi jejak harapan masa depan yang sempat
tertunda. Aku kembali rajin belajar. Mengikuti pelajaran dengan baik hingga
sampai akhirnya aku bisa lulus dengan nilai yang cukup memuaskan.
Terima kasih Tuhan, atas kasih sayang
yang tidak pernah putus Kau anugerahkan padaku. Terima kasih Widya, jika bukan
karenamu mungkin aku tidak akan bisa melewati masa sulit ini. Terima kasih
kawan.
Orang sukses bukanlah dia yang bisa
mencapai apa yang menjadi ambisinya tapi orang sukses adalah dia yang bisa
bangkit meski berkali-kali terjatuh.
Catatan akhir semester, Januari 2010
[ * ]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar