Sabtu, 01 November 2014

Catatan : Memories

Memories

Wid, masihkah kau ingat pertemuan pertama kita?
Jika kau lupa, aku dengan senang hati akan menceritakannya untukmu.
Waktu itu, kita sedang dalam masa-masa kenaikan kelas tingkat akhir di SMP. Aku dengan nafas terengah-engah memasuki ruang kelas IX C. Menjamahi seluruh ruangan dengan sekali pandang. Mencari bangku kosong yang mungkin tersisa untukku. Kau tahu, aku sangat lelah. Berlari dari kelasku sebelumnya ke sana.
Dan ya, aku melihat satu bangku kosong. Tepat di sampingmu. Dengan hati lega dan bahagia kuseret kaki lelahku mendekatimu. Menanyakan apakah bangku kosong itu telah ada pemiliknya. Kau menggeleng. Aku sangat lega karena akhirnya aku bisa duduk.
Aku baru sadar tentangmu, Wid. Kau, salah satu siswa dari kelas favorit itu kan?! Kenapa kau malah masuk di kelas ini?
Ya, pergantian kelas tiap tahun terkadang menyebalkan. Memisahkan kita dengan orang terdekat kita. Teman. Sahabat. Tapi tenanglah, jangan sedih. Aku yakin di kelas ini kau akan menemukan teman baru yang mungkin saja lebih menyenangkan dibanding dengan temanmu dulu. Tapi aku tidak janji ya. Hehehe …
Perkenalan itu pun terjadi. Kita saling menjabat tangan dan bercerita tentang diri kita masing-masing. Tak kusangka ternyata kau memiliki teman dekat yang sama denganku. Karena dialah kita menjadi akrab dalam waktu yang lumayan singkat.
Dan masihkah kau ingat saat aku menolak permintaanmu, Wid? Kau meminta bertukar teman sebangku dan spontan aku menggeleng. Menolak permintaanmu itu. Lalu kau hanya diam. Tidak marah atau memakiku. Aku justru takut. Serba salah. Bisa jadi dalam diammu itu kau marah dan benci padaku. Iyakah?
Tapi aku punya alasan kenapa aku menolak permintaanmu itu. Karena kau anak pintar dan aku ingin duduk sebangku dengan anak pintar agar aku juga kecipratan kepintaranmu. Alasan yang konyol bukan? Tapi dalam logikaku membenarkannya.
Selain kau, aku menemukan seorang teman lagi. Si Put. Aku sudah mengenalnya saat di kelas VII dulu. Kami satu kelas dan satu ekstrakuliler. Kami cukup akrab tapi tidak begitu dekat. Baru di kelas IX aku dekat dengan si Put dan kau, Wid.
Aku senang bisa mengenal kalian. Kalian adalah sahabat terbaik yang pernah aku miliki. Kesamaan prinsip membuat kita selalu kompak.
Bertiga, kita rutin mengunjungi perpustakaan sekolah di jam istirahat sekolah. Tenggelam dengan tumpukan buku. Nah, ini salah satu kesamaan kita. Yaitu jarang jajan. Hohoho …
Kebersamaan dengan kalian tidak akan mungkin bisa aku lupakan. Terlalu indah untuk dilupakan. Kayak lagu ya. Biarin ajalah. Hehehe …
Setelah pengumuman kelulusan SMP, kita membuat keputusan besar. Keputusan untuk mengejar mimpi kita masing-masing yang artinya kita harus berpisah. Hiks hiks hiks. Padahal rencana awalnya, kita melanjutkan di sekolah yang sama tapi …
Ok ok tak apa. Kita masih bisa berkumpul juga kan pada akhirnya. Di teras rumahmu yang rindang setiap minggu atau lebaran tiba. Cukuplah menghapus rindu di hati ini.
Dan lagi-lagi, jarak membuat kita semakin jauh. Wid, kau memilih melanjutkan pendidikan ke Kota Lumpia. Aku ikut senang saat tahu kau diterima  di salah satu Universitas di kota itu. Semoga sukses, kawan.
Memandangi potret kita, sukmaku menjerit. Kehangatan, canda, tawa kita dulu menyesakkan dadaku. Belajar bersama, berbagi tentang hal-hal baru, aku rindukan itu.
Bersamamu aku bisa merasakan hangatnya sebuah persahabatan, kau menularkan virus semangatmu kedalam pembuluh darahku, tanpa pernah terdengar gema keputusasaan disetiap langkahmu dan kita.
Di bawah langit itu, kita, bersama melukis masa depan. Namun waktu membuat jarak antara kita. kini memandangi dunia sendiri. Masih menyimpan harap suatu hari nanti kita memandang langit bersama. Lagi.
 Kudus, 01 November 2014

Kamis, 30 Oktober 2014

Fiksi : Kenapa Kau Membenciku???

Kenapa kau membenciku?

Tak perlu kau bersembunyi. Aku bisa melihatmu dengan jelas. Tiang bangunan itu tidak bisa menyembunyikan tubuhmu dari penglihatanku. Dan satu lagi. Aku juga tahu kalau kau membenciku. Mungkin amat sangat banget sekali membenciku.
Jika kau izinkan, aku ingin bertanya satu hal. Pertanyaan sederhana saja.
Kenapa kau membenciku? Apakah aku pernah berbuat salah padamu? Atau tanpa sadar kalimatku menyakitimu?
Tapi kan kita belum pernah berbincang. Menyapamu saja aku tidak pernah, lalu bagaimana bisa kau benci padaku? Bukan aku tidak mau berbincang denganmu. Tapi kau menghindar di detik pertama saat mata kita bertaut.
Aku benar-benar tidak mengerti. Kenapa kau membenciku?
Sebenarnya, aku tipikal orang yang cuek dan masa bodoh dengan orang lain. Aku lebih senang menghabiskan waktu sendiri. Mengembara dalam duniaku sendiri. Aku tidak pernah peduli dengan orang-orang di sekitarku. Bagiku, mereka hanyalah patung berjalan.
Tapi saat bertemu denganmu semua terasa lain. Aku tidak bisa lagi acuh apalagi berpura-pura tidak melihatmu. Ada sesuatu yang membuatku ingin mendekatimu. Meninggalkan duniaku yang nyaman. Tapi tidak kusangka, kau justru menghindariku bahkan sangat membenciku. Aku jadi sangat penasaran.
Jika kau izinkan, aku ingin bertanya. Kenapa kau membenciku? Jawablah.
Aku kesal dan sebal jika melihat raut wajahmu seperti itu. Diam, melihatku sekilas dan mendesah pelan. Kenapa? Kenapa kau tidak mau menjawab pertanyaanku?
Tolonglah, jangan buat aku merasa sangat bersalah seperti ini. Bagaimana aku tahu salahku jika kau diam dan menghindariku.
Kau tahu, kau sempurna mengalihkan duniaku. Membuatku pusing sepuluh keliling karena tingkah anehmu itu.
Aku sadar, aku hanyalah manusia biasa. Aku bukan malaikat yang suci, yang tidak punya dosa. Aku juga bukan iblis yang menakutkan. Aku kombinasi keduanya. Sifat malaikat dan iblis menyatu dalam tubuhku. Dan … Hmm, bahkan saat ini mungkin aku sedang melakukan dosa lagi.
Tolong, jangan acuhkan aku. Jangan abaikan aku. Aku hanya butuh penjelasan. Setelah
itu terserah kau. Kau ingin menjauh. Kau tidak ingin melihatku lagi. Terserah. Aku tidak
akan mengganggumu lagi. I SWEAR.
Hufffh, aku merasa lega karena akhirnya kau mau berbicara padaku. Aku tahu kau
masih takut. Aku dapat merasakannya. Tapi tidak apa. Ini sudah lebih dari cukup.
Aku hanya bisa tertawa saat kau menjelaskan semuanya. Alasan kenapa kau menjauhi dan membenciku. Perutku sampai sakit karena tawa yang tak sanggup kutahan.
"Jadi, kau takut dengan rambut gondrongku?" tanyaku, menahan tawa.
Kau hanya mengangguk dengan tertunduk.
Ya, mungkin memang sudah waktunya kupangkas habis rambut yang menutupi hampir sebagian wajahku. Rambut yang selama bertahun-tahun kubiarkan memanjang.
Selama ini aku selalu cuek, toh tidak ada seorang pun yang berkomentar tentang penampilanku. Tapi kau. Ya kau. Dengan kepolosanmu kau mengatakan, kau takut padaku karena benda di atas kepalaku ini. Rambutku!
"Baiklah. Besok aku akan potong rambut."
Kau mendongak. Menatapku dengan penuh sesal.
Aku balas menatapmu. Bukankah itu yang kau inginkan? Tanyaku lewat tatapan mata.
"Eh … Tidak perlu. Aku hanya butuh penyesuaian," jawabmu. Kembali menunduk.
Aku mengangkat sebelah alis. Orang aneh.
Kau takut melihat rambutku, aku bersedia memotong rambut, eh kau bilang tidak perlu. Katamu, kau hanya butuh penyesuaian saja. Maksudnya apa?
"Kau kehilangan sesuatu?" Kulihat kakimu saling bergesek dengan lantai.
Kau mendongak lagi. Menggeleng.
"Lalu kenapa menunduk seperti itu?"
"Tidak apa-apa."
Kau benar-benar orang teraneh yang pernah aku temui. Tapi jauh di lubuk hati, ada yang menarikku padamu. Meski kau aneh tapi aku suka. Mungkin karena aku juga aneh. Ya, dua orang aneh bersama. Entah bagaimana penilaian orang tentang kita.
Ups!
Kita? Kata itu terdengar indah sekali. Kau dan aku menyatu menjadi kita.
Bibirku tertarik ke belakang menciptakan sebuah senyum. Namun itu tidak lama. Aku gengsi dan takut kau melihatnya. Karena aku jelek ketika tersenyum. Tidak percaya? Terserah.
"Kau sering datang ke tempat ini?"
Berdua berkeliling museum sekali lagi. Meja bundar besar yang memajang deretan bungkus rokok dari masa ke masa menyambut kedatangan kita. Kau mendekati meja bundar itu.
"Ya, ketika libur datang."
Aku mengangguk. Membenarkan jawabanmu. Setiap datang kemari pun aku selalu bertemu dengan bayanganmu yang berjalan seorang diri di dalam museum yang ramai. Aku ingat betul pertemuan pertama kita dulu.
Waktu itu aku sedang mengambil foto tiga patung pekerja yang sedang menggiling rokok dan kau-mungkin tidak melihat keberadaanku-menabrakku yang fokus menjebret aksi tiga patung pekerja itu.
Aku sempat ingin marah sebenarnya. Kau mengganggu konsentrasiku. Tapi saat melihat mimik mukamu, aku justru terheran. Kau seolah melihat sesosok makhluk astral yang sangat menakutkan. Belum sempat kubertanya, kau berlari menjauhiku. Meninggalkan tanda tanya dalam hatiku.
"Rumahmu di mana?"
Tanpa dosa kutanyakan itu padamu. Dan sudah kuduga kau menatapku. Mungkin heran, karena kita baru saja kenal dan aku menanyakan rumahmu.
"Eh, kupikir rumahmu tidak terlalu jauh dari sini. Mengingat kau sangat rajin datang kemari. Iya kan?" sahutku lagi. Memutus curigamu.
Kita melangkah lagi. Sekarang memandangi tumpukan tembakau yang di tata apik di dalam etalase kaca.
"Rumahku berjarak dua rumah dari sini."
Aku hanya ber-o- ria. Tiba-tiba terbersit keinginan untuk berkunjung ke rumahmu.
Setelah satu jam lamanya berkeliling museum, akhirnya sampailah di akhir kebersamaan  kita. Kau tersenyum sekilas. Sedangkan aku membantu di tempatku. Mengutuki waktu yang cepat sekali berlalu. Aku ingin lebih lama bersamamu.
Dengan sekali anggukan, kau pamit. Karena hari mulai senja. Atau mungkin kau khawatir orang tuamu mencari atau malah kau ada janji dengan seseorang. Ah, entahlah. Aku hanya ingin kau tinggal. Menemaniku lebih lama lagi.
"Tunggu!"
Panggilanku menghentikan langkahmu.
"Eh, apakah kita akan bertemu lagi?"
Kau menjawab dengan tersenyum dan kuartikan senyum itu sebagai kata, "ya".
Bayangan tubuhmu perlahan mengecil dan menghilang. Meninggalkan aku yang masih membantu di pintu masuk museum yang mulai sepi. Aku merasakan ada yang hilang dalam hatiku. Aku merasa tidak lagi utuh.
Rindu. Sepertinya aku merindukanmu. Aku tahu, kau akan menertawakan jika aku katakan itu padamu. Baru juga kenal kok sudah rindu. Tapi aku serius. Aku rindu padamu. Tingkahmu yang bersembunyi di balik tiang. Senyum kakumu. Ah, tak sabar rasanya menanti hari esok. Tak sabar bertemu denganmu lagi.
Sampai bertemu lagi di pertemuan kita selanjutnya. Aku berjanji kau tak akan lagi takut melihatku. Aku akan berubah. Demi kau.

*****  THE END  *****

Kudus, 30 Oktober 2014


Fiksi : Bertahan Untukmu

Bertahan untukmu, ~ J~

Setahun yang lalu. Di tempat ini. Pertama kalinya aku bertemu denganmu. Aku bahagia. Sangat bahagia malah. Karena aku tidak lagi sendiri.
Ada kau yang menemani pagi dan malamku. Ada kau yang memberikan aku sandaran ketika aku terpuruk. Kau yang selalu ada di setiap tangis dan juga tawaku. Kau berharga. Melebihi apapun.
Meski kebersamaan kita baru satu tahun, tapi aku merasa mengenalmu lebih lama. Mungkin belasan atau puluhan tahun yang lalu. Aku nyaman dan merasa damai bersamamu.
Setelah setahun lamanya kita bersama. Keteguhanku perlahan memudar. Maafkan jika kejujuranku ini menyakitimu. Sebenarnya aku masih ingin bersamamu. Tapi … Entahlah. Aku tidak tahu. Semua sudah jauh berubah. Tidak lagi sama seperti dulu.
Ada banyak hal yang tidak pernah sama dengan apa yang kita inginkan. Mungkin ini juga salah satunya.
Aku bingung. Apakah aku harus melepasmu? Setelah setahun lamanya kita bersama?
Tidak. Konyol dan bodoh jika karena ini saja aku melepasmu. Melepaskan semua kenangan indah kita.
Baiklah, aku akan coba bertahan. Menjaga rasa ini untukmu. Memang tidak mudah namun bukan berarti aku tidak bisa. Pasti kita bisa. Selama kau bersamaku.

 Aku akan bertahan untukmu, ~ J~

Kudus, 30 Oktober 2014

   

Rabu, 29 Oktober 2014

Fiksi : Lelaki Masa Lalu

Lelaki Masa Lalu

Kuakui, dulu aku mengagumimu. Dan tanpa aku sadari rasa kagum itu tersimpan apik di sudut hatiku hingga detik ini.
Sikapmu, perilakumu, wajahmu, semua tentangmu, aku suka. Rasa kagum itu bahkan sudah ada ketika aku masih mengenakan seragam putih merah. Anak kecil ingusan yang belum tahu arti rasa kagum.
Aku hanya suka melihatmu. Bertemu denganmu. Itu saja.
Kau tahu, dulu ketika aku akan berangkat sekolah. Aku selalu mencari kesempatan agar aku bisa berangkat bersamamu. Walau hanya menjadi bayangan ataupun ekor bagimu. Entah kau sadari atau tidak kehadiranku saat itu. Tidak apa. Aku tetap merasa senang. Terkadang aku tersenyum sendiri jika mengingat kejadian itu.
Mereka bilang, perasaan itu adalah cinta monyet. Iya monyet. Kau tahu kan. Binatang penyuka pisang itu. Yang suka berpindah-pindah tempat sesuka hatinya. Kurang lebih seperti itulah pengertian cinta monyet. Penjelasan itu dituturkan salah seorang guru ketika aku duduk di bangku SMP dulu.
Jika benar rasa ini cinta monyet, kenapa aku tidak berpindah seperti itu? Seperti monyet yang berpindah dari satu pohon ke pohon yang lain. Perasaanku tidak berpindah kepada orang lain. Aku bahkan semakin mengagumimu saat di SMP tingkat dua dulu.
Berarti memang rasa ini bukan cinta monyet kan?! Aku tidak pernah mengganti nama dan wajahmu di hatiku. Kau tetap yang nomor satu. The Only One.
Setelah lulus SMP, aku disibukkan dengan tugas-tugas dan pekerjaan sekolah lainnya. Itu sangat membuatku letih. Hingga perlahan aku lupa padamu. Bukan aku tidak lagi kagum, tapi kesibukan ini menyita seluruh waktu dan pikiranku. Aku tidak bisa lagi berkhayal tentangmu. Sampai tanpa kusadari nama dan wajahmu perlahan terhapus di hatiku.
Dan sekarang, waktu berbaik hati mempertemukan kita lagi. Setelah bertahun lamanya kita terpisah dan tidak pernah bertatap muka.
Kau yang dulu kukagumi sekarang telah tumbuh menjadi lelaki dewasa yang tetap
mengagumkan di mataku. Tapi aku sempat kecewa karena aku jarang atau mungkin tidak
pernah lagi melihat senyummu. Kenapa? Padahal dulu, kau begitu lepas tersenyum bahkan tertawa.
Wajah itu seakan mengukung senyummu. Apakah kau bahagia dengan itu? Jika iya, aku akan ikut bahagia. Tapi aku … Ah, sudahlah. Aku bahkan tidak bisa mengartikan tatapan matamu yang beberapa kali kudapati mengekor langkahku.
Kenapa kau berubah? Aku lebih senang dengan dirimu yang dulu. Yang lugu, baik, sopan, pintar dan rupawan.
Secara fisik, kau masih sama. Tapi secara feeling, aku merasa kau berubah. Aku tidak tahu dan mungkin tidak punya hak untuk tahu. Siapalah aku bagimu.
Mungkin bagi kebanyakan orang aku munafik, mengatakan aku tidak mengharapkanmu. Tapi, memang itu yang selalu aku katakan. Kau adalah lelaki di masa laluku dan tidak pernah kuberharap kau akan jadi masa depanku. Kupasrahkan semua pada Tuhan. Karena Dia yang lebih tahu. Mana yang baik untukku. Untuk kehidupanku dan untuk kita berdua.
Mungkin bersamamu itu membuatku bahagia. Tapi jika Tuhan berkata itu tidak baik, ya akan berakhir dengan sendirinya. Pun sebaliknya.
Jodoh itu urusan Tuhan. Aku hanya bisa berusaha dengan cara yang dibenarkan oleh Tuhan dengan memperindah diriku agar Tuhan menjodohkan aku dengan seseorang yang indah pula. Entah orang itu kau atau yang lain.
Biarlah kini kita jalani kehidupan kita masing-masing. Aku dengan duniaku dan kau dengan kehidupanmu. Terima kasih karena kau bersedia mampir di lamunanku malam ini.
Selamat malam.

Kudus, 29 Oktober 2014

Jumat, 24 Oktober 2014

Cerita Anak : Kisah Raja Semut dan Kawanan Panda



Kisah Raja Semut dan Kawanan Panda
Oleh : Nuril Islam

Pada zaman dahulu, hiduplah seekor raja semut. Sang raja semut itu sangat bijaksana dan juga cerdik. Para semut sangat hormat dan patuh padanya. Tak pernah sekalipun mereka menentang perintah dari sang raja semut.
Kelompok semut itu tinggal di sebuah ladang. Di ladang itu tumbuh pohon tebu yang sangat banyak dan juga lebat. Dan sesuatu kebetulan yang mengasyikkan untuk kelompok semut itu. Mereka yang memang sangat menyukai sesuatu yang manis merasa sangat beruntung bisa tinggal di ladang itu.
Setiap hari, para semut bergotong royong untuk mencari makan. Mereka saling membantu, saling bekerja sama, tanpa ada rasa iri dan juga membanggakan diri. Mereka adalah satu tim yang sangat solid.
Pagi itu, sang raja semut tengah berkeliling di ladang. Mengamati para pekerja yang sedang mengangkut makanan ke gudang makanan milik mereka. Sayup-sayup terdengar suara nyanyian yang merdu. Karena penasaran sang raja pun mendekati asal suara itu. Saat berada dekat dari suara itu, sang raja tersenyum senang. Segerombolan semut sedang bernyanyi riang dengan tangan dan kaki mereka yang terus bekerja. Wajah mereka terlihat sangat gembira, tanpa beban dan juga rasa letih.
"Kerja, kerja, ayo kita kerja …"
Begitulah kira-kira lagu yang dinyanyikan gerombolan semut itu.
Sang raja semut kemudian pergi meninggalkan mereka. Berkeliling lagi.
"Hmmm, betapa indahnya pagi ini. Matahari bersinar hangat, burung-burung berkicau di atas ranting pohon," ucap sang raja takjub. Kembali sang raja melangkahkan kakinya menyusuri ladang tebu yang luas.
Sudah menjadi kebiasaan, kalau setiap harinya sang raja mengitari ladang tebu itu. Dari pagi hingga petang menjelang. Untuk memastikan keadaan sekitar. Mungkin saja ada binatang buas yang ingin masuk ke dalam wilayah kekuasaannya.
"Semuanya aman. Ah, lebih baik aku kembali ke sarang."
Baru beberapa sang raja melangkah, ia mendengar sesuatu bergerak di kejauhan.
"Apa itu?" tanya sang raja.
Berhati-hati sang raja mendekati rimbunan pohon tebu yang menjulang tinggi. Muncullah beberapa ekor semut melompat-lompat di atas daun tebu. Satu suara memanggilnya. 
"Raja! Raja!"
"Gawat Raja. Kita mendapat masalah besar." Seekor semut bertubuh tambun tergopoh mendekati sang raja.
"Ada apa?" sang raja bertanya dengan nada cemas. Pasti ada sesuatu yang penting sehingga mereka datang menemuinya.
"Gawat Raja. Sarang kita terancam hancur."
"APA?!" Pekik sang raja semut tidak tidak percaya. Bagaimana bisa sarang-sarangnya bisa hancur? Siapa yang melakukannya?
Dengan nafas terengah-engah semut-semut itu menceritakan kejadian yang menimpa sarang mereka.
"Benar Raja, para panda itu menghancurkan sarang rumah kami dan juga memakan semua tebu yang ada di sana," terang salah satu semut yang bertubuh lebih kurus dari yang lain.
Mereka bersama sang raja bergegas ke tempat para panda itu berada. Sang raja bertanya dalam hatinya, apa yang membuat para panda itu masuk ke dalam wilayahku? Apa yang sebenarnya terjadi?
Sampailah sang raja dan pasukan semut di sana. Keadaan sangat kacau. Carut marut. Batang-batang pohon tebu bergelimpangan di tanah. Sarang-sarang para semut beberapa telah hancur. Terlihat semut-semut lari pontang panting menyelamatkan diri dan juga keluarganya.
"Aku tidak bisa diam saja melihat ini. Aku harus berbicara dengan pemimpin dari panda-panda itu," kata sang raja semut geram.
Sebelum pergi, sang raja berpesan kepada para prajuritnya untuk membawa para semut ke tempat yang lebih aman. Setelah memastikan rakyat semut telah aman, pergilah sang raja semut menemui pemimpin panda.
"Hei, kau. Berhenti! Berhenti!"
Sang raja berteriak keras sekali memanggil pemimpin panda, namun yang dipanggil tidak mengindahkan kata-kata sang raja.
"Huh, kau meremehkanku ya. Baiklah, jika itu maumu."
Sang raja semut melompat dan merayap di kaki sang panda. Bersiap untuk menggigit.
"Rasakan ini!"
Jleb!
"Auuuw!" Si Ketua panda itu pun berteriak histeris. Raungannya yang keras membuat panda lain datang mengerubuninya.
"Ada apa, Ketua?" tanya salah satu panda.
"Ada yang menggigit kulit kakiku."
Panda itu melongok melihat kakinya yang berdenyut. Di sana seekor semut memakai mahkota daun di kepalanya, tersenyum lebar.
"Kau rupanya. Kenapa kau menggigitku?" tanya si Ketua.
"Salah siapa? Aku dari tadi memanggilmu tapi kau tidak dengar. Hah, aku minta kau dan anggotamu itu pergi dari sini. Ini adalah wilayah kami. Para semut." Perintah sang raja semut. Menatap tajam kepada si Ketua.
"Hahaha … Kenapa juga aku harus mendengarkan ucapanmu? Kau itu siapa? Raja hutan? Hahaha …"
"Kalau kau tidak mau pergi dari sini, jangan salahkan aku jika para pasukan semut akan datang melawan kalian semua dan kupastikan kalian akan kalah. Dengarkan itu!" Kecam sang raja semut.
"Kau? Mau melawan aku? Hahaha. Lihatlah dirimu semut. Kau itu hanya binatang yang kecil dan juga lemah. Tidak mungkin bisa melawan kami yang besar dan kuat."
"Awas saja. Aku akan kembali bersama pasukanku."
Sang raja berlalu dengan perasaan marah. Sedang kawanan panda itu tertawa lepas melihat sang raja semut. Bagaimana bisa binatang besar seperti panda akan dikalahkan dengan semut? Tidak akan mungkin.
"Mari kita lanjutkan makan. Habiskan semuanya. Hahaha," seru si Ketua pada anggotanya. Para panda berseru senang dan kembali larut dengan makanan mereka.
Sementara di tempat persembunyian semut, sang raja menggelar rapat penting bersama dengan prajurit-prajuritnya yang setia. Mereka sedang mengatur strategi untuk mengusir kawanan panda itu dari wilayah mereka.
"Kita kalah kuat, Raja. Mereka binatang yang besar. Sudah pasti kita akan kalah," keluh salah satu prajurit.
"Aku yakin kita pasti bisa mengalahkan mereka. Meski mereka bertubuh besar bukan berarti mereka bisa bersikap seenaknya pada kita. Nah, aku punya rencana."
Satu ide brilian pun muncul dari otak sang raja. Sang raja sangat yakin kalau rencananya ini akan berhasil.
"Sekarang, kumpulkan para semut jantan. Kumpulkan mereka semua di sini." Perintah sang raja.
Para prajurit pun bergegas melaksanakan perintah dari rajanya itu. Tidak butuh waktu lama, para semut jantan telah berkumpul di sarang sang raja.
"Aku kumpulkan kalian di sini tidak lain tidak bukan untuk mengusir kawanan panda yang telah masuk tanpa izin ke dalam wilayah kita. Bersama kita pasti bisa melakukannya."
Dipimpin sang raja, pasukan semut itu menuju ke tempat kawanan panda itu berada. Kawanan panda itu tidak menyadari ada bahaya yang mengintai mereka. Mereka terus asyik melahap makanan. Sang raja memberi kode kepada para prajuritnya untuk mengambil posisi. Sekejap barisan semut itu berlari menuju kawanan panda yang tengah asyik makan. Membentuk lingkaran di kaki para panda.
"Tunggu aba-aba dariku!" Seru sang raja.
Sang raja pun merayap ke kaki si Ketua panda.
"Sekarang kau rasakan pembalasan dari kami," batin sang raja semut.
Sebelum penyerangan, sang raja memastikan prajuritnya telah berada di posisi.
"Satu! Duaa! … Serang!" Seru sang raja dengan lantang. Serempak prajurit semut itu pun menggigit kaki kawanan panda yang asyik makan.
Bruk! Bruk! Bruk!
Satu persatu kawanan panda itu terjatuh dan saling bertabrakan dengan kawannya sendiri. Sambil memegang kaki mereka yang sakit.
"Auuuw!" Pekik kawanan panda itu seperti sebuah koor.
Si Ketua panda kebingungan melihat anggotanya yang berjatuhan dan mengerang kesakitan. Sebelum si Ketua menyadari apa yang terjadi, sang raja semut seketika menggigit dalam-dalam kulit kaki si Ketua. Seperti yang lain, si Ketua panda terjerembab di atas tumpukan daun tebu.
"Sudah aku bilang kan?! Kalau aku akan kembali dengan pasukanku. Sekarang apakah kalian masih berani pada kami?" tanya sang raja semut. Mendekati si Ketua yang terguling-guling.
"Semut? Kau …?"
"Ya, aku kembali. Sekarang aku minta kau dan anggotamu pergi dari sini. Pergi dari wilayah kami." Sang raja menatap si Ketua tajam. Mata mereka pun saling beradu.
"Pergi! Pergi! Pergi! …" Seru para prajurit semut serempak.
"Semut, maafkan kami. Jangan usir kami. Kami tidak punya tempat tinggal. Izinkanlah kami untuk tinggal di sini," pinta si Ketua panda. Wajahnya berubah memelas.
"Kalian tidak punya tempat tinggal? Bagaimana bisa?" Sang raja semut terheran.
"Benar semut. Kami tidak lagi punya tempat tinggal. Manusia telah merusak rumah kami. Membakar rumah kami dan membunuh keluarga kami secara sadis. Kami berusaha melawan, namun kekuatan mereka jauh lebih besar dan akhirnya kami memutuskan untuk mengungsi. Berbulan-bulan kami terus berjalan menyusuri hutan dan sungai, demi mencari tempat tinggal baru. Hingga pada akhirnya aku melihat ladang tebu ini. Tolonglah kami semut," terang si Ketua.
Sang raja semut tertegun dan terkejut mendengar cerita si Ketua panda itu. Tidak disangka kawanan panda itu melewati masa yang sangat sulit. Hati sang raja semut yang tadinya mengeras seperti batu perlahan melunak setelah mendengar pengakuan tidak terduga dari si Ketua panda.
"Baiklah, aku akan mendiskusikannya dengan para semut."
Sang raja semut pun pergi dan mengumpulkan para semut.
"Bagaimana menurut kalian? Apakah kita izinkan kawanan panda itu hidup bersama kita di ladang tebu ini?" tanya sang raja. Memandang wajah para semut. Meminta pendapat.
"Saya tidak setuju, Raja. Bisa saja mereka mengarang cerita itu," kata salah satu semut.
Ya, bisa jadi.  "Yang lain?" tanya sang raja semut lagi.
"Kami serahkan semua keputusan padamu, Raja. Karena kami yakin Raja pasti bisa mengambil keputusan yang terbaik untuk kami."
Para semut kemudian terdiam. Larut dengan pikirannya masing-masing. Begitu pun dengan sang raja semut. Pilihan yang sangat sulit.
"Baiklah. Keputusan sudah aku ambil. Semoga ini yang terbaik," batin sang raja semut.
Bersama salah satu prajuritnya, sang raja semut menemui si Ketua panda. Wajah para panda itu sangat tegang. Mereka berharap sang raja semut menerima mereka tinggal di ladang ini.
"Ehem ehem. Setelah berdiskusi dengan para semut, aku memutuskan … kalian boleh tinggal di sini."
Kawanan panda itu pun terlonjak gembira mendengar keputusan sang raja semut.
"Terima kasih semut," kata si Ketua.
"Tapi dengan syarat. Kalian tidak boleh melewati batas wilayah. Aku akan meminta prajuritku untuk menemani kalian, menunjukkan wilayah mana yang boleh kalian tempati."
Si Ketua panda mengangguk setuju dengan keputusan sang raja semut. Tidak disangka, semut yang telah ia hina dan remehkan ternyata sangat baik padanya dan juga anggotanya. Tiba-tiba si Ketua panda merasa bersalah pada sang raja semut.
"Eh, semut. Aku meminta maaf atas perkataanku tempo hari. Tidak seharusnya aku mengatakan kalimat yang menyakiti hatimu. Maafkan aku semut," kata si Ketua penuh sesal.
"Sudahlah. Yang lalu biarlah berlalu. Dan ingat, jangan remehkan kami. Para prajurit semut yang tangguh."
Sang raja semut dan si Ketua panda pun tertawa bersama.
Sejak hari itu, para semut dan kawanan panda hidup berdampingan dengan damai dan bahagia.
*** TAMAT ***

   

Kudus, 24 Oktober 2014

Kamis, 23 Oktober 2014

Catatan kamis pagi yang penuh berkah

Catatan kamis pagi yang penuh berkah

Kita tidak pernah tahu bagaimana cara Tuhan mempertemukan kita dengan kematian. Mungkin akan sangat menyakitkan hingga air mata tiada henti mengalir dari pelupuk mata namun bisa jadi itu sangat menyenangkan dan membawa rasa damai dan lega ketika kita berjumpa dengannya.
Tidak ada yang tahu pasti kapan kematian itu akan datang. Di mana ketika kematian itu menjemput dan seperti apa tampang dan keadaan ketika ia menyapa di detik nafas terakhir kita. No one know, tidak aku, kau atau mereka. Itu mutlak menjadi rahasia Tuhan.
Terkadang terbersit keinginan untuk menyudahi kehidupan di dunia ini. Ingin segera pergi dari semua hal yang memusingkan dan menyesakkan dada. Namun ketika keinginan itu telah sampai pada puncaknya, aku tertegun. Sudahkah aku siap? Apakah bekalku telah cukup? Kurasa memang bekalku jauh dari cukup.
Selama ini memang aku selalu mementingkan kehidupan yang nyata di depan mataku tanpa mempedulikan kehidupan lain, yang kata mereka lebih hakiki dan lebih nikmat. Benarkah? Entahlah, aku sendiri pun tidak tahu.
Aku terbuai dengan pernak-pernik dan perhiasaan dunia yang menyilaukan mata dan hati hingga aku benar-benar alpha. Semua itu sangat menggiurkan, apakah salah jika aku menginginkannya?
Ada yang bilang, untuk mendapatkan keindahan dunia dan kenikmatan akhirat harus menggunakan ilmu. Dengan ilmu semua bisa didapatkan. Tapi eh tapi harus diseimbangkan dengan keimanan kepada Tuhan yang Maha Kuasa. Keseimbangan akan menciptakan keselarasan dalam hidup.
Sering aku bertanya pada diriku sendiri. Kehidupan macam apa yang ingin aku jalani? Kisah seperti apa yang ingin aku lakoni? Pertanyaan demi pertanyaan itu sangat menggangguku. Membuatku tidak jenak.
Semakin aku bertanya semakin tidak kutemukan jawaban. Dunia seakan acuh pada kegelisahanku. Atau mungkin ia juga sama gelisahnya sepertiku? Ya mungkin saja.
Lihatlah, betapa dunia semakin semrawut, tidak beraturan. Alam semakin bertambah tua dan manusia semakin berulah dengan ide-ide gilanya yang mereka cetuskan demi hanya dan untuk kepentingan mereka sendiri. Manusia lupa bahwa mereka tidak hidup sendiri. Ada makhluk lain di dunia ini. Tumbuhan dan hewan. Tumbuhan dan hewan yang punya hak untuk melangsungkan hidup sama seperti manusia tapi kenapa manusia begitu egois dan selalu ingin menang sendiri? Semakin jelaslah sifat dasar manusia itu, serakah. Astaghfirullah …
"Tidak Kuciptakan manusia dan jin selain hanya untuk beribadah kepada-Ku."
Kalimat kalam itu membuatku tersadar akan tujuan hidupku. Yakni beribadah hanya kepada-Nya. Dia yang menguasai langit, bumi dan apa yang  ada diantara keduanya.
Tuhan, aku tahu bahwa aku bukanlah manusia yang sempurna. Aku sering dan selalu melakukan dosa kecil maupun besar. Namun aku tahu Tuhan, bahwa sifat Rahiim-Mu jauh lebih besar dibanding benci-Mu kepadaku, hamba-Mu yang penuh dengan lumpur dosa.
Tuhan, aku tahu jika aku masih sering dan selalu menyalahi aturan yang Kau buat. Namun sifat Ghofur-Mu yang tidak terhinggalah membuatku selalu berprasangka baik bahwa Kau akan membukakan pintu maaf-Mu untukku.
Tuhan, bimbinglah langkahku. Tuntunlah jalanku. Agar aku selalu berada dalam rahmat dan lindungan-Mu. Tidak ada hal yang amat aku inginkan selain meminta cinta tulus dari-Mu Tuhan.
Wahai Tuhanku, berikanlah kepadaku kebaikan di dunia dan juga kebaikan di akhirat serta selamatkanlah aku dari siksa api neraka yang menyala-nyala. Aamiin.

 Kudus, 23 Oktober 2014



Minggu, 28 September 2014

Cerpen : Origami Sepasang Merpati


Origami Sepasang Merpati
Oleh : Nuril Islam

“Yeee, punyaku sudah jadi!” Ian berseru senang. Mengangkat tinggi-tinggi origami bentuk senjata ninja miliknya. Aku manyun. Memandanginya dengan perasaan iri.
“Aku menyerah,” ucapku kesal. Membuang sembarangan kertas origami warna merah jambu. Melipat kedua tangan.
“Ah, kamu Re. Begitu saja sudah menyerah. Payah!” Kata Ian. Kembali duduk di sampingku. Mengambil kertas origami yang kubuang.
Ya, aku memang payah. Berkali-kali Ian mengajari membuat origami tapi tetap saja aku tidak bisa. Padahal kelihatannya origami itu mudah, tapi setelah aku mencoba membuatnya ternyata sulit. Aku semakin kesal karena Ian tertawa melihat hasil origamiku yang tidak berbentuk.
“Kalau manyun begitu kamu semakin mirip dengan si Duck, hahaha.” Ian tertawa. Si Duck adalah bebek peliharaan Kang Asep, penjaga kantin sekolah.
Aku diam. Tidak mengindahkan ejekan Ian itu. Aku kesal tapi malu juga. Ah, entahlah. Aku beranjak dan meninggalkan Ian yang masih tertawa bahkan tawanya semakin kencang.
Hai, namaku Rere dan dia adalah sahabatku, Ian. Kami berdua adalah penghuni panti Cahaya Kasih. Meski kami tidak memiliki orang tua, tapi kami memiliki Bu Hana. Beliau adalah pengurus panti sekaligus orang tua bagi kami. Beliaulah yang mengajarkan kami untuk selalu tersenyum dan bersyukur meski kehidupan kami tidak sama seperti anak-anak yang lain. Bu Hana adalah malaikat bagiku.
Aku dan Ian bersekolah di SMP Nusa Bangsa. Tidak jauh dari panti. Tingkat akhir. Di sekolah kami termasuk siswa yang pintar lho. Aku rangking kedua dan Ian selalu rangking pertama (huh!). Aku dan Ian bersahabat baik tapi untuk urusan pendidikan kami saling bersaing menjadi yang terbaik. Tapi kami selalu bersaing dengan sportif kok.
Aku paling suka bernyanyi dan Avril Lavigne adalah penyanyi favoritku. Aku bahkan mengoleksi banyak kaset Avril Lavigne. Kaset-kaset itu kudapatkan dengan susah payah. Menyisihkan uang jajan berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan agar bisa membeli kaset itu.
Sedangkan Ian paling suka membuat origami. Jika kau ingin melihat koleksi origami milik Ian, tengoklah kamarnya. Berbagai origami dengan macam bentuk dan ukuran bertebaran di setiap sudut kamarnya. Ikan, bunga, katak, burung, dan entah apalagi.
Yang paling menarik adalah origami sepasang burung merpati. Origami itu berbeda dan terlihat istimewa. Jika origami yang lain di digantung di langit-langit kamar atau disusun menjadi tirai, origami sepasang burung merpati itu di letakkan di dalam toples kaca yang tertutup. Kenapa coba? Kan tidak mungkin merpati kertas itu terbang. Aneh betul Ian itu.
Terdengar seseorang mengetuk pintu kamarku. Satu kepala mengintip dari baliknya.
“Kamu masih marah?” Ian. Aku memandangnya sepintas. Pura-pura membaca buku.
“Jangan marah gitu dong, Re. Aku kan cuma bercanda.”
Aku masih diam. Siapa juga yang tidak kesal. Ditertawakan seperti itu hanya karena aku tidak bisa membuat origami. OMG, hellouw!
“Sebagai permintaan maaf, aku buatkan origami buat kamu deh. Ya?” bujuk Ian. Melompat ke atas ranjangku. Membuatku bergoyang. Huh, dasar Ian.
Ah, basi. Terlalu sering Ian membuatkan aku origami.
“Atau kamu mau origami yang ada di kamarku. Pilih aja, Re. Tapi kamu maafin aku ya? Please?” kata Ian bersungguh-sungguh. Menatapku penuh harap.
Aku mendesah. Menutup buku yang sama sekali tidak kubaca.
“Aku mau origami yang di toples itu.” Kataku tenang.
Tanpa kuduga, Ian menggelengkan kepalanya. Menolak permintaanku. Padahal tidak
pernah sekalipun Ian menolak permintaanku. Kenapa? Apakah origami itu sangat berarti
untuknya?
“Maaf, Re. Aku tidak bisa. Aku tidak bisa memberikan origami itu.” Ian berlari keluar dari kamarku. Aku mencegah tapi Ian terus berlari ke kamarnya. Mengunci pintu.
“Ian? Ian?” Aku mengetok pintu. Tapi aku tidak mendengar suara dari dalam. Apa Ian marah? Atau mungkin membenciku? Tiba-tiba aku merasa menyesal. Mengutuki diri sendiri.
“Ada apa, Re?” Bu Hana menggenggam pundakku. Aku tersenyum getir. Bola mataku berkaca. Sepertinya aku akan menangis. Dan benar, air mataku pecah saat kuceritakan semua pada Bu Hana. Aku benar-benar takut Ian akan membenciku.
“Kita biarkan saja Ian sendiri dulu. Nah, sekarang lebih baik kamu bantu kakak-kakak di dapur. Nanti malam ada tamu istimewa.”
Tamu istimewa? Dahiku terlipat. Siapa?
Kulangkahkan kaki menuju dapur. Sekali kumenoleh ke arah kamar Ian. Berharap Ian keluar dan mau menemuiku. Tapi pintu kamar Ian masih tetap tertutup. Aku menghela napas pelan. Melanjutkan langkah menuju dapur.
Siang segera berganti malam. Rumah panti kami malam ini terlihat sangat berbeda. Lampu-lampu dan pita-pita menghiasi setiap ruangan. Malam ini kami akan kedatangan tamu istimewa. Siapa? Aku juga tidak tahu.
Aku merapikan dress warna merah muda yang kukenakan. Tersenyum memandangi wajahku di depan cermin. Sekejap menuju ruang tamu bergabung dengan yang lain. Menanti tamu istimewa itu.
Ian? Dia sudah keluar dari kamarnya. Memandangku sepintas kemudian berbaris bersama teman laki-lakinya. Aku tersenyum kecut melihatnya. Berjalan dengan wajah tertunduk ke arah baris anak perempuan.
Tiga puluh menit kemudian.
Terdengar deru suara mobil memasuki halaman panti. Anak-anak panti berlarian
keluar. Ingin segera melihat tamu istimewa itu. Tapi aku terdiam di tempatku. Memandang Ian. Iapun memandang ke arahku. Ragu-ragu aku melangkah mendekatinya. Berdiri tepat di depannya. Menjulurkan tangan.
“Maafkan aku.” Wajahku tertunduk.
Ian menyambut uluran tanganku. Aku tersenyum cerah. Mengangkat wajah.
“Kita baikan?” tanyaku. Ian tersenyum.
“Tapi, mulai malam ini semua akan berubah. Semua tidak akan sama lagi, Re.”
Aku melipat dahi. Tidak mengerti dengan kalimat Ian. Belum sempat kutanyakan maksud kalimat Ian itu, Bu Hana meminta kami untuk berbaris kembali.
Sepasang suami isteri memasuki ruang tamu. Bergantian bersalaman dengan kami. Si laki-laki mengenakan jas warna hitam, rambutnya tersisir rapi. Sedang si perempuan mengenakan gaun warna merah marun. Rambutnya yang panjang tergerai dibelai kipas angin ruangan. Cantik sekali. Siapakah mereka? tanyaku dalam hati. Jawaban itu baru kudapatkan setengah jam kemudian. Kami akan makan malam bersama dulu dengan tamu istimewa itu.
Mbok Inah, Kak Mira dan yang lain hilir mudir menyajikan hidangan di atas meja. Meja panjang itupun segera penuh dengan makanan yang menggugah selera. Kulihat Bu Hana mempersilakan tamu istimewa itu untuk mencicipi makanan yang disediakan.
Satu jam kemudian.
Mereka adalah Bapak Andi dan Ibu Hena. Mereka adalah orang tua kandung Ian. Tujuan mereka datang ke panti tak lain untuk menjemput Ian pulang bersama mereka.
“Setelah sekian lama mencari, akhirnya kami menemukan putra kami yang hilang. Ian.” Suara Pak Andi menghentak kesadaranku. Melemparku ke dalam jurang yang dalam dan gelap.
“Dan terima kasih untuk Bu Hana yang telah merawat anak kami dengan baik.” Bu Hena memeluk Ian dengan penuh sayang.
Air mataku berjatuhan. Membasahi dress merah mudaku. Aku masih tidak percaya dengan apa yang telah kudengar.
“Kami berencana untuk membawa Ian ke Ausie. Melanjutkan pendidikannya di sana.”
Air mataku semakin deras berjatuhan. Ausie? Itu berarti aku tidak akan bertemu dengan Ian lagi? Bertahun-tahun kami selalu bersama. Pergi berdua, belajar bersama, bercanda, tertawa. Dan sekarang aku harus melihat kenyataan bahwa Ian akan pergi. Meninggalkanku sendiri.
Aku berlari menjauh dari keramaian. Mencari tempat untuk menyendiri. Aku berhenti di tempat remang di halaman belakang. Tempat ini pun akhirnya hanya akan menjadi kenangan.
Aku menangis. Tersedu. Menatap tanah berpasir yang membuat sepatuku kotor. Aku tidak peduli.
Bulan di atas sana sedang purnama. Bulatnya yang elok menatapku nanar. Seharusnya malam ini indah. Lihatlah, bintang gemintang membentuk gugusan yang sangat memesona. Namun di mataku semua terlihat sangat menyakitkan. Apa artinya semua ini jika Ian pergi.
“Aku tahu, kamu pasti di sini.” Aku menoleh. Ian berdiri di bawah daun pintu. Melangkah mendekat.
“Maafkan aku, Re,” kata Ian memecah sepi yang tercipta.
“Untuk apa?”
“Untuk semuanya. Aku akan pergi. Bukan sehari atau sebulan. Mungkin bertahun-tahun.”
Aku diam. Menggigit bibir. Jangan pergi, Ian. Jangan tinggalkan aku.
“Aku janji akan rajin menghubungimu.” Ian menolehkan wajahnya. Menatapku.
Tapi semua tidak akan menyenangkan lagi. Jawabku lewat tatapan mata.
“Ya, setelah aku pergi kamu pasti tidak akan menemukan teman seganteng, sepintar
dan sekeren aku. Iya kan?” Ian nyengir. Menyenggol pundakku. Aku tersenyum getir. Ya, itu benar. Kamu memang sahabatku yang paling ganteng, pintar dan keren. Aku mengakuinya
sekarang.
 “Nah, ini untukmu.” Ian menyerahkan bungkusan kotak padaku.
Apa ini? Tanyaku. Mengerutkan dahi. Ian mengisyaratkan untuk membukanya. Ternyata isi kotak itu adalah origami burung merpati yang aku minta. Ah, bukankah Ian bilang tidak akan memberikannya?
“Aku memberikan satu origami burung merpati itu padamu dan pasangannya aku simpan di toples yang baru. Seperti hakikatnya, burung merpati akan selalu tahu ke mana ia harus pulang. Sejauh apapun ia terbang ia tidak pernah tersesat untuk pulang. Dan aku akan segera kembali karena di sinilah rumahku. Bersama Bu Hana, adik-adik panti dan tentu saja kamu, Re.” Ian tersenyum. Senyum Ian laksana setitik embun yang menyejukkan. Menghalau segala resah dan sedihku.
“Promise?” ucapku. Mengacungkan jari kelingking ke arahnya.
“Promise!” Balas Ian. Menyatukan jari kelingkingnya dengan jariku.
Aku pun bisa mengiringi kepergiaan Ian dengan hati lapang. Aku yakin suatu hari nanti Ian akan kembali membawa warna baru dalam hidupku. Sama seperti yang selama ini ia lakukan. Mewarnai duniaku dengan origami miliknya.
Beberapa tahun kemudian.
Usiaku sekarang 22 tahun. Aku menjadi tenaga pengajar di salah satu taman kanak-kanak di dekat panti. Bersama Bu Hana, aku memajukan panti asuhan. Bukan hanya tempat untuk menampung anak-anak terlantar. Aku membangun sekolah gratis dan rumah membaca untuk anak-anak. Alhamdulillah, semua berjalan baik dan lancar. Aku merasa senang bisa membantu mereka. Rasanya itu … amazing. Melihat senyum lepas yang terkembang dari bibir-bibir mungil itu lelahku serasa hilang.
Satu hal lagi yang menarik. Aku sudah bisa membuat origami. Ya, sejak Ian pergi entah kenapa aku bertekat untuk membuat kerajinan tangan itu. Siang dan malam aku memelototi buku tata cara membuat origami. Aku ingin bisa membuat origami. Kenapa? Karena dengan
membuat origami aku merasa Ian berada di dekatku. Bersamaku.
Hari semakin sore. Senja semakin matang. Terlihat satu dua burung terbang menuju arah
terbenamnya matahari. Aku menikmati pemandangan itu dari teras panti. Ditemani secangkir
teh hangat dan buku tebal di pangkuanku. Lagu best years of our lives yang dinyanyikan Avril berdentum merdu. Setiap liriknya mengingatkanku pada Ian. Ah, lagi-lagi dia. Bertahun-tahun lamanya aku tidak bisa sempurna melupakan Ian. Meski tengil dan sering menertawakanku, Ian adalah sahabat yang baik dan spesial one for me.
Seseorang menggedor gerbang pagar panti. Aku berdiri. Menemui orang itu. Membukakan gerbang. Seorang laki-laki berkaca mata tersenyum ke arahku. Aku membalas tersenyum.
“Kamu masih ingat denganku, Rere?” tanya laki-laki itu. Aku menggeleng. Aku berusaha mengingat tapi sungguh aku tidak ingat siapa dia. Temanku yang mana? SDkah? SMPkah? SMAkah? Ah, aku benar-benar tidak ingat. Laki-laki berkaca mata itu tersenyum misterius. Mengeluarkan sesuatu dari dalam tas punggungnya.
“Mungkin kamu ingat ini.” Dia menyodorkan toples bening berisikan burung kertas padaku.
Aku ternganga. Jelas aku ingat benda itu. Aku bahkan masih menyimpan pasangan burung kertas itu. Laki-laki ini … Apakah dia Ian? Orang yang selama ini aku rindukan?
“Apa kabar, Re? Aku pulang.”
Aku tidak bisa menahan air mataku untuk jatuh. Aku menangis. Origami burung merpati itu telah kembali dengan pasangannya. Bersama kepulangan Ian.
“Aku ingin mengatakan sesuatu yang seharusnya aku katakan sejak dulu. Aku … Aku mencintaimu, Re. Maukah kamu menikah denganku?” ucap Ian. Mengeluarkan sepasang cincin emas. Ada ukiran burung merpati di tengahnya.
Aku mendekap mulut. Tak sanggup berucap.
Tuhan, apakah ini nyata?
Pelan aku mengangguk. Tanda kumenerima lamarannya. Ian tersenyum dan memelukku.

Burung merpati akan selalu kembali pulang, sekalipun itu hanyalah burung kertas.
[*]

Kudus, 28 September 2014