Tampilkan postingan dengan label Antologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Antologi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 03 September 2014

Cerpen Dialah Bapak




Dialah Bapak
Oleh : Nuril Islam

Bapakku sedang duduk sendiri di ruang tamu. Secangkir teh pahit dan sepiring ketela rebus menemani kesendiriannya. Aku berjalan mendekat. Duduk di samping Bapak. Bapak menoleh sejenak namun kemudian kembali pada dunianya yang tidak pernah aku tahu. Bapak memang orangnya tertutup.
“Sedang mikir apa to Pak?” tanyaku lembut. Sambil tanganku memijat lengan Bapak. Bapak hanya tersenyum, tidak menjawab. Menatap lurus menembus jendela rumah kecil kami. Aku ikut-ikutan menatap jendela yang semakin buram. Hujan di luar sepertinya masih deras. Aku bisa mendengar gemericik air hujan yang menghantam genting rumah. Aku menatap wajah orangtua paruh baya di sampingku.
Bapak. Seorang pekerja keras, sayang keluarga dan juga rajin beribadah. Setiap hari Bapak bekerja sebagai tukang kayu. Pontang panting mencari nafkah untuk mencukupi kebutuhan anak dan isterinya.
Di kalangan tetangga, Bapak sosok yang cukup terkenal. Hampir semua orang di desa mengenal Bapak. Meski banyak juga yang mencibir Bapak, mencibir keluarga kami. Mereka mengatakan bahwa aku dan adik-adikku hanya akan menjadi buruh seperti Bapak karena di mata mereka Bapak tidak mungkin bisa menyekolahkan keenam anaknya hingga pendidikan yang tinggi. Aku pun pernah mendengar pembicaraan yang cukup mengganggu telinga itu. Jujur hatiku terasa panas. Emosiku tersulut. Untuk apa mereka mengurusi kehidupanku, kehidupan kami? Ingin rasanya aku meluapkan emosiku itu tapi Bapak mencegah.
“Tidak usah Nur. Untuk apa? itu tidak akan menyelesaikan masalah justru malah menambah masalah. Biarkan saja mereka berkata sesuka hati mereka.”
Aku mendengus sebal. Menggerutu dalam hati.
“Bapak akan bekerja keras agar kalian bisa sekolah sampai tinggi.”
Aku hanya mengangguk. Kemudian pergi ke kamar.
Di lain hari Bapak mendekatiku. Waktu itu aku sedang merapikan buku pelajaran. Tidak biasanya Bapak masuk ke kamarku. Biasanya sepulang kerja, Bapak pasti tiduran di ruang tengah atau bermain bersama adikku.
“Nduk, Nur, Kamu harus belajar yang benar. Sekolah yang rajin. Jadi anak yang pintar. Berpendidikan supaya masa depan kamu cerah jangan seperti Bapakmu ini. SD saja tidak lulus. Kamu janji sama Bapak ya Nduk,” ucap Bapak sambil sebelah tangannya mengelus pundakku.
Aku sedikit terkejut.
Kenapa Bapak tiba-tiba berkata seperti ini?
Lama aku terdiam.
Aku mengangguk, “Iya pak. Nur janji akan belajar yang rajin. Nur akan menjadi kebanggaan Bapak dan Ibu.”
Bapak mempunyai impian sederhana yaitu beliau ingin anak-anaknya menjadi orang yang sukses. Sejak malam itu, aku berjanji pada diriku sendiri bahwa aku harus sekolah dengan baik, belajar yang rajin dan menjadi kebanggaan untuk Bapak karena impian Bapak adalah impianku.
******
Hari mulai gelap. Hujan di luar mulai mereda.
“Tolong ambilkan kopi Bapak, Nur.”
Kalimat Bapak membuyarkan lamunanku. Kusodorkan gelas Bapak yang tidak lagi panas. Kucomot ketela rebus yang ada di atas meja. Ini makanan kesukaanku. Ketela rebus, kalau istilah Bapak keju jawa.
Usiaku sekarang dua puluh dua tahun. Bekerja di kantor notaris di kotaku. Adikku yang pertama telah menyelesaikan pendidikan SMAnya dan sudah di terima bekerja di sebuah pabrik, sedang dua adikku masih mengenyam bangku sekolah. Yang satu SMA kelas dua dan yang satunya lagi SD kelas tiga. Dua adikku yang terakhir masih kecil.
Dialah Bapak, dengan segala keterbatasan ekonomi berusaha sekuat tenaga dan kemampuannya untuk menyekolahkan anak-anaknya walau hanya sampai SMA. Dialah Bapak, dengan segala keterbatasannya berusaha sabar dan ikhlas dengan cobaan hidup. Aku bangga memiliki orangtua seperti Bapak. Bapak yang sederhana, pekerja keras, dan sayang pada kami anak-anaknya.
Kau yang menunjukkan padaku betapa indahnya dunia, namun kau juga yang menunjukkan padaku bahwa hidup ini begitu kejam. Tapi kau selalu berpesan padaku, anakmu, agar aku tidak membencinya karena inilah kenyataan, kenyataan yang memang sudah menjadi jalan hidup. Aku terus berjalan walau rintangan datang menghadang langkahku. Tidak perlu aku merasa takut, karena kau bilang Tuhan selalu bersama orang-orang yang gigih berusaha. Dan aku percaya itu. Bahwa Tuhan selalu bersama kita.
[*]
Kudus, 18 Agustus 2014
( masuk antologi event "Sosok Terhebat", Penerbit Inspimedia)

Selasa, 12 Agustus 2014

Cerpen Ramadhan, Menjaga Lisan, Menjaga Puasa




Menjaga Lisan, Menjaga Puasa
Oleh : Nuril Islam

Zizi meletakkan mukena miliknya di kursi belajar. Melompat ke atas kasur. Kedua matanya terasa berat. Zizi ingin tidur lagi. Mumpung hari minggu. Suara kokok ayam terdengar bersahutan di luar. Tapi Zizi tidak peduli. Ia mengantuk. Ia ingin tidur.
Pukul 08.00. Matahari bersinar terang di langit biru. Tersenyum lembut pada alam semesta. Liyana, kakak Zizi membangunkan adiknya yang masih tertidur pulas di kamarnya.
“Zi, bangun Zi. Matahari sudah tinggi.”  Kata Liyana.
Zizi mengucek kedua matanya. Memaksa tubuhnya untuk bangun.
“Sudah waktunya buka ya Mbak?” Tanya Zizi. Menguap.
“Masih sepuluh jam lagi bukanya. Ayo bangun. Anak perempuan nggak baik tidur pagi-pagi. Ayo bangun Zi.”
“Aaah, malas Mbak. Lagian juga ini kan hari minggu. Nggak apa-apa kan kalau aku nggak mandi.” Jawab Zizi. Menguap lagi.
“Hari minggu atau nggak kamu harus tetap mandi. Biar bersih. Biar segar. Sudah cepet mandi. Mbak tunggu di luar.” Liyana melangkah keluar kamar.
Sepuluh menit kemudian. Zizi sudah berganti pakaian. Wajahnya terlihat segar. Jilbab biru muda yang ia kenakan membuatnya terlihat cantik.
“Nah, gitu dong. Hari pertama puasa kok malah tidur terus.” Kata Liyana.
Zizi manyun. Mendekati kakaknya yang sedang sibuk merapikan pakaian.
“Zizi kan nggak ada kerjaan Mbak. Jadi Zizi tidur aja. Kan tidurnya orang puasa itu ibadah. Iya kan Bu?” Zizi melirik Ibunya yang keluar dari dapur. Ibu Zizi hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan anak perempuannya itu.
“Tapi nggak gitu juga kan Zi. Masak tidur sepanjang hari. Lebih baik waktu luang diisi dengan hal-hal yang bermanfaat.” Jawab Liyana.
“Hal-hal yang bermanfaat? Hm?” Zizi mengeryitkan dahi. Berpikir.
“Iya. Contohnya…kamu bantuin Mbak masukin baju-baju ini ke lemari. Nih.” Liyana menyodorkan tumpukan pakaian pada Zizi.
“Yeee, itu mah akal-akalan Mbak Liyana aja.” Zizi melangkah menuju lemari pakaian yang ditunjuk kakaknya. Manyun. Liyana terkekeh karena berhasil mengerjai adiknya.
Waktu berjalan sangat lambat. Zizi melirik ke arah jam di dinding ruang tengah. Zizi menghela napas. Huuhh, baru jam sepuluh. Masih lama bukanya. Hahhhh, nggak kuat.
Zizi meraih remote TV. Berharap dengan menonton TV Zizi melupakan rasa lemas tubuhnya karena puasa.
Acara TVnya membosankan. Nggak ada yang seru, Gerutu Zizi dalam hati.
“Zi, ikut Mbak yuk.” Lamunan Zizi buyar. Menatap wajah kakaknya dengan penuh tanda tanya. Ke mana?
“Mbak mau beli keperluan rumah. Kamu nggak ada acara kan?” Tanya Liyana.
Zizi menggeleng, nggak ada.
“Ya udah yuk. Keburu siang.”
Dua kakak beradik itupun pergi.
Panas, kering, terik dan macet. Zizi mendengus menahan teriknya siang hari. Motor yang dikendarai Liyana berhenti di lampu merah. Asap knalpot kendaraan menyeruak membuat udara semakin kotor. Zizi menutup mulut dan hidungnya dengan ujung jilbabnya. Uuuh, polusi udara.
Lima menit kemudian mereka telah sampai di tempat tujuan. Liyana dan Zizi berjalan beriringan menuju toko. Zizi berjalan mendekati rak parfum. Melihat lihat parfum yang tertata rapi. Tanpa sengaja Zizi menyenggol seseorang di belakangnya.
“Aduh, gimana sih Mbak. Kalau jalan hati-hati dong.” Seorang ibu bertubuh tambun terjatuh ke lantai. Zizi membantu Ibu itu untuk berdiri.
“Maaf Bu. Saya tidak sengaja. Sekali lagi saya minta maaf.” Kata Zizi. Panik. Liyana yang tidak jauh dari tempat Zizi datang mendekat.
“Ada apa Zi?” Tanya Liyana.
“Ini Mbak. Zizi nggak sengaja nabrak Ibu ini.” Zizi menggigit bibir.
“Maafkan adik saya ya Bu. Ibu tidak apa-apa?” Liyana menyalami Ibu itu. Tersenyum. Ibu itu berbicara panjang dengan Liyana. Zizi tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Zizi sibuk dengan pikirannya sendiri.
Kenapa sih hari ini orang-orang pada nyebelin semua? Nggak tahu apa kalau aku puasa. Bikin emosi. Zizi mendengus sebal.
Matahari di atas sana semakin terik. Semilir angin menerbangkan daun-daun yang kering. Siang yang sangat panas.
Sepulang dari toko Liyana mengajak Zizi mampir ke POM bensin. Tidak lama mereka telah sampai. POM bensin penuh sesak dengan kendaraan. Antrian kendaraan mengular panjang.
“Mbak antriannya panjang kayak gini. Pulang aja deh Mbak.” Kata Zizi merajuk.
“Bensinnya udah hampir habis Zi. Nggak mungkin cukup sampai ke rumah. Salah Mbak juga kemarin lupa ngisi.” Jawab Liyana.
Satu jam Liyana dan Zizi mengantri. Tibalah giliran mereka tapi tiba-tiba…
“Eh, eh, kok nyalip. Gimana sih. Kan kita yang antri duluan.” Kata Zizi setengah berteriak. Menatap tajam pengendara motor di depan mereka. Pengendara motor itu pura-pura tidak mendengar. Santai membuka tangki bensin motornya dan berbicara pada petugas POM.
Nyebelin banget sih, Gerutu Zizi.
“Udah Zi. Biarin aja.” Kata Liyana melerai.
“Tapi kan Mbak kita yang antri duluan.”
Zizi terus menggerutu. Menatap sinis pengendara motor yang melewati mereka.
Baru juga hari pertama puasa, udah banyak cobaan kayak gini. Bikin emosi terus. Haahhh, Gerutu Zizi, lagi.
“Penuh Pak.” Kata Liyana pada petugas POM. Tersenyum. Mengabaikan adiknya yang masih manyun.
“Mbak puasa?” Tanya petugas POM.
“Insya allah Pak.”  Jawab Liyana.
“Kalau Mbak yang itu? Puasa juga?” Tanya petugas POM lagi. Menunjuk Zizi yang berdiri di samping kakaknya.
Gadis lima belas tahun itu menoleh.  “Tentu saja Pak.” Kedua alisnya terangkat. Tidak mengerti dengan pertanyaan petugas POM itu.
“Tapi kok marah-marah. Apa ndak batal puasanya?” Kata petugas POM. Tersenyum pada Zizi.
Jleb! Seketika wajah Zizi berubah merah padam. Malu. Semua amarahnya yang menggelembung seketika hilang. Tak berbekas.
Liyana menyerahkan uang pada petugas POM itu. “Terima kasih Pak.”
Petugas POM itu tersenyum pada Liyana dan Zizi. “Mbak yang sabar jangan mudah marah. Nanti pahala puasanya hilang kalau marah-marah terus.”
Liyana menghidupkan mesin motor, tersenyum sekali lagi pada petugas POM dan sekejap menjauh dari antrian yang masih mengular. Zizi tersenyum tipis pada petugas POM. Wajahnya masih merah padam. Menahan malu.
“Benar apa yang dikatakan petugas di POM tadi. Nggak baik marah-marah seperti itu Zi. Kamu kan lagi puasa. Seharusnya kamu lebih bisa menjaga lisan. Puasa itu tidak hanya menahan lapar dan haus tapi juga menahan nafsu. Nafsu amarah, nafsu berbicara yang tidak baik dan nafsu-nafsu lainnya yang bisa mengurangi ibadah puasa kita. Akan lebih baik jika lisan dipergunakan untuk hal-hal yang baik. Seperti tadarrus Al-Qur’an.”
“Kamu sudah besar. Mbak tidak akan bicara panjang lebar tentang puasa. Mbak sebagai kakak kamu hanya ingin mengingatkan agar kamu tidak salah dalam bersikap dan mengambil langkah. Kamu mengerti Zi?” Kata Liyana. Melirik Zizi yang menunduk lewat kaca spion.
Zizi mengangguk pelan. “Iya Mbak.”
[*]

Kudus, 09 Juni 2014

(masuk antologi Munajat dan Kisah Para Muslim, Penerbit Camar)

Cerpen, Kemudahan Itu Pasti Datang




Kemudahan Itu Pasti Datang
Oleh : Nuril Islam

Mata bulat coklat itu berbinar. Senyum kecil terlukis di bibir.  Tanganku meraba kerudung panjang warna putih yang sempurna menutupi rambut hitamku. Rasa senang membuncah di dada. Lega. Akhirnya aku berjilbab. Hal yang seharusnya aku lakukan dari dulu. Aku masihmematut diri di depan cermin. Berputar-putar, senyum-senyum sendiri. Ya Rabb, teguhkan hatiku atas apa yang menjadi pilihanku ini.
Pagi ini aku sibuk mempersiapkan berkas lamaran kerja. Kerja? aku menarik nafas panjang. Perlahan membuangnya melalui mulut. Selama ini aku berkutat dengan buku, rumus, soal-soal, tugas dan ujian tapi sekarang aku berada di tempat asing, tempat baru yang tidak aku kenal. Lingkungan baru, orang-orang baru, kehidupan baru. Jam di dinding kamar berdenting pelan. Berirama dengan denyut jantungku. Tak bisa kupungkiri aku gugup. Gugup menerka masa depanku. Entah bagaimana aku di masa depan? Aku tidak tahu. Aku merapikan kembali jilbab putihku untuk terakhir kalinya. Sekejap melesat menjemput rahmat-Nya. Mentari tersenyum hangat, menyemangatiku.
Wajah lelahku bercampur dengan peluh. Tidak ada lagi senyum semangat yang menghiasi pagiku. Aku kecewa. Benar-benar kecewa. Lamaran kerjaku ditolak. Alasannya? karena perusahaan mereka tidak menerima karyawan yang berjilbab. Oh Allah, satu petir merobek harapanku. Mengubahnya menjadi abu. Aku lahir dan tumbuh di negara yang mayoritas penduduknya adalah muslim, lalu apa maksud semua ini? aku merasa tersisih di kotaku sendiri. Apa hubungannya jilbabku dengan pekerjaan? aku tidak mengerti. Memusingkan. Aku teringat ucapan Nasha tempo hari.
“ Kamu yakin? Akan sulit mendapatkan pekerjaan jika . . . ” Kalimat Nasha menggantung. Ragu jari telunjuknya menunjuk jilbab panjangku. Aku tersenyum tipis. Berfikir positif. Namun ternyata… itu benar. Apa yang dikatakan Nasha itu benar adanya, tidak ada perusahaan yang mau memperkerjakan karyawan yang berjilbab. Aku menghela nafas. Tertunduk. Menatap kosong lantai keramik. Sekejap pandanganku berubah kabur. Butir butir airmata berdenting di pelupuk mataku. Semilir angin menyanyikan lagu duka untukku. Suaranya terdengar lirih dan menyesakkan. Haruskah aku . . . ? Aku menggengam ujung jilbab panjangku. Mencari pegangan. Haruskah aku melepasnya? Dadaku terasa sesak. Ya Allah, aku harus bagaimana? Tidak. Aku tidak akan melakukannya. Aku tidak akan melepas jilbabku. Aku sudah berjanji akan terus mengenakannya. Apapun yang terjadi. Aku menghapus bulir air bening di ujung mata. Ini bukan akhir semuanya. Aku tidak boleh menyerah. Aku yakin rizki Allah itu luas, tidak hanya di perusahaan yang menolakku itu. Semangat. Semangat. Semangat.
Hingga bulan berikutnya belum ada satu perusahaan yang memanggilku untuk interview. Hahhh, aku bingung. Lama-lama diam di rumah juga bosan. Jenuh. Tidak ada aktivitas.
“ Sambil nunggu panggilan kerja lebih baik kamu nyambi* kerja di rumah. misal saja menjahit. ” ucap Ayahku suatu hari. Menjahit? hmmm, kenapa tidak. Berbekal ilmu yang aku dapat sewaktu di SMP dulu aku mulai kerja menjahit. Aneh memang, aku siswa lulusan SMK dari jurusan Akuntansi menjadi seorang penjahit. Beberapa tetangga berbisik, mencibirku. Kata mereka, sayang sekali kalau ijazah sekolahku itu dianggurin. Aku tidak banyak menanggapi. Aku lebih memilih untuk diam dan tersenyum saja. Terkadang aku berfikir, apa salah menjadi seorang penjahit? Apa menjadi penjahit itu hina? Ya, aku mengerti. Bagi kebanyakan orang, jabatan tinggi adalah bukti bahwa sekolahnya itu berguna. Ijazahnya berguna. Kerja di kantoran, pakaian rapi, bersepatu dan semacamnya. Melihat anaknya bisa bekerja kantoran merupakan kebanggaan untuk orang tua. Mengangkat martabat keluarga. Akan aku buktikan bahwa aku pun bisa menjadi kebanggaan.
Bulan Desember tahun 2013. 
Musim penghujan telah tiba. Segerombol awan berbaris rapi di bawah langit sendu. Dinginnya angin yang berhembus menyejukkan hati. Mengusir gerahku. Sebutir air hujan jatuh di teras rumah. Sekejap disusul ribuan butir air hujan yang lain. Kaca jendela kamarku berembun. Kedinginan. Aku terpaku melihat pemandangan di balik jendela. Diam. Menikmati melodi alam. Senyum pagi matahari bersembunyi di balik awan. Senyum semangat yang selalu menghangatkanku. Menghangatkan cita-cita dan harapanku yang sempat membeku. Satu tahun berlalu sangat cepat. Potongan kisah masa lalu satu persatu berseliweran di kepalaku. Berputar seperti film bioskop tanpa aku minta. Terkadang aku tersenyum, menggeleng, sedih. Aku menghela nafas. Membuat kaca jendela semakin buram. Hujan di luar semakin deras. Aktivitas pagi ini masih lengang. Padahal jam di pergelangan tanganku sudah menunjuk pukul sembilan. Beberapa toko masih tertutup rapat. Tapi tidak dengan toko “ June Cell ”. Toko yang menjual pulsa itu sudah buka sejak pukul tujuh pagi tadi. Itu toko milikku. Toko kecil sederhana yang mulai aku rintis sejak enam bulan yang lalu. Modal awal aku dapatkan dari iuran dari ayah, ibu dan sisa tabungan yang aku miliki. Alhamdulillah, enam bulan ini semua berjalan lancar. Bangga rasanya bisa jadi seorang wirausaha meski masih kecil. Aku yakin semua ini adalah jalan hidup yang telah digariskan oleh Allah. Semua kesulitan dan masalah yang pernah menghampiri hidupku adalah ujian agar aku menjadi orang yang lebih baik. Setiap masalah yang ada, Allah selalu menjanjikan jalan keluarnya.
“ Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” 

Kudus, 13 Mei 2014

Catatan :
Nyambi : bahasa jawa, kerja sampingan.

(masuk dalam Antologi event "Muslimah Tangguh" oleh Pena Indhis)

Cerpen, Kekuatan Doa Seorang Ibu


Kekuatan Doa Seorang Ibu
Oleh : Nuril Islam

“Ibu, buka pintunya. Ibu!” Aldi menggedor pintu rumah dengan keras.
“Ibu! Buka pintunya.” kata Aldi lagi.
Lama Aldi menunggu, tapi Ibunya tidak kunjung membukakan pintu.
“Ibu, buka pintunya kalau tidak aku dobrak sekarang.” seru Aldi geram. Aldi melangkah mundur beberapa langkah, mengambil ancang-ancang. Aldi telah siap mendobrak pintu namun tiba-tiba…
Kreeek…
Pintu rumah terbuka. Seorang wanita tua keluar dari rumah sederhana itu. Wajahnya terlihat lelah. Wanita itu mendekati Aldi.
“Maafkan Ibu. Tadi Ibu ketiduran.”
“Aaah, alasan. Ibu selalu begitu. Minggir.” Aldi menjawab ketus. Berjalan masuk ke dalam rumah. Menyenggol Ibunya hingga terdorong ke belakang. Ibu Aldi merintih menahan sakit di punggungnya.
“Aldi, kamu dari mana? Kenapa jam segini baru pulang?” tanya Ibu Aldi. Membuntuti Aldi ke dalam rumah. Aldi justru cuek tidak mempedulikan pertanyaan Ibunya itu. Ia melangkah masuk ke kamar. Merebahkan tubuhnya di atas kasur. Tidur.
“Aldi, jawab Ibu. Kamu dari mana Nak? Ibu cemas.” kata Ibu Aldi lagi.
“Sudahlah Bu, itu bukan urusan Ibu. Ibu tidak lihat, aku capek Bu. Pengen tidur. Jadi lebih baik Ibu keluar.” jawab Aldi masih ketus.
“Ya sudah.” Ibu Aldi menghela napas. Melangkah keluar kamar.
Ibu Aldi berdiri mematung di depan pintu kamar Aldi. Sekejap mata Ibu Aldi basah. Ribuan butir air bening menganak sungai dari pelupuk matanya.
“Maafkan Ibu Nak. Ibu tidak bisa menjadi Ibu yang sempurna untuk kamu. Ibu tidak bisa membahagiakan kamu. Kamu harus hidup susah seperti ini. Kalau saja Bapakmu masih bersama kita mungkin hidup kita tidak akan seperti ini Nak. Maafkan Ibu.” ucap Ibu Aldi lirih.
Ibu Aldi pun memutuskan kembali ke kamar. Rasa pegal karena seharian bekerja kembali menyergap raganya yang mulai menua.
Pukul 03.00
Malam semakin mengigil. Suara binatang malam pun tak lagi terdengar. Hanya
suara jam di dinding kamar yang berdenting pelan. Terdengar suara tangisan dari sebelah kamar Aldi. Wajah itu menangis di atas sajadahnya yang lusuh. Air mata tiada hentinya mengalir menganak sungai. Bibirnya tidak berhenti berdzikir, berdoa pada Tuhan Pemilik alam semesta. Satu doa khusus Ia tujukan teruntuk anaknya.
“Ya Allah, berikan hidayah-Mu untuk Aldi. Bimbinglah dia agar kembali pada-Mu. Jadikanlah dia anak yang sholeh dan berbakti kepada kedua orangtuanya. Lindungilah dia di mana pun dia berada. Jauhkanlah dia dari orang-orang jahat dan orang-orang yang mengajaknya kepada keburukan ya Allah. Rabbanaa aatinaa fid-dun-yaa hasanatan wa filaakhirati hasanatan wa qinaa ‘adzaaban-naar. Aamiin.”
*****
Aldi, remaja tanggung itu masih santai di dalam kamarnya. Asyik sendiri bermain handphone. Sedang Ibunya tengah sibuk mencuci pakaian. Ya setiap hari Ibu Aldi bekerja sebagai buruh cuci untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari dan juga untuk biaya sekolah Aldi. Selain pekerjaannya sebagai pembantu rumah tangga. Ibu Aldi tidak pernah malu ataupun risih karena bagi beliau uang yang didapatkan dari pekerjaannya itu adalah uang halal. Meski itu sempat menjadi penyebab pertengkaran Ibu Aldi dengan Aldi. Aldi merasa malu karena teman-teman sekelasnya selalu mengejek Aldi. Mengatai Aldi sebagai anak pembantu.
“Maafkan Ibu karena pekerjaan Ibu ini kamu menjadi bahan tertawaan di sekolah. Maafkan Ibu, Nak.”
“Makanya Ibu harus berhenti jadi pembantu. Titik.” ucap Aldi keras.
“Tapi… Nak, kalau Ibu berhenti, dari mana Ibu bisa dapat uang? dari mana Ibu bisa beli beras dan lauk untuk kita makan?” mata Ibu Aldi mulai basah. Disekanya butir air mata itu.
“Itu urusan Ibu. Pokoknya aku tidak mau diejek lagi di sekolah.” Aldi berlalu meninggalkan Ibunya sendiri. Membanting tas sekolahnya ke lantai.
Pertengkaran itu tidak semakin besar. Ibu Aldi masih bekerja sebagai pembantu rumah tangga dan juga sebagai buruh cuci. Keadaan ekonomi yang susah membuat Ibu Aldi tetap mempertahankan pekerjaan itu. Karena beliau sadar mencari pekerjaan itu tidak gampang. Apalagi Ibu Aldi hanya lulusan SD.
Waktu terus berjalan. Aldi telah menyelesaikan studinya. Namun sayang Aldi tidak bisa menebus ijazahnya karena mereka tidak punya cukup uang. Berbulan bulan Aldi menganggur. Tidak ada perusahaan yang mau menerimanya dengan alasan berkas lamaran Aldi yang tidak lengkap. Ketika remaja seusianya sibuk menyiapkan berkas lamaran kerja, Aldi justru tengah asyik nongkrong di pinggir jalan. Saat yang lain bersiap berangkat kerja, Aldi justru masih terlelap tidur karena semalaman begadang. Hari-harinya dihabiskan untuk nongkrong membicarakan hal-hal tidak penting, demi mengusir penat dan jenuh.
*****
Siang itu Aldi mendapat telpon dari kawan lamanya, Budi. Budi mengajak Aldi bekerja dan menjanjikan gaji besar jika Aldi bersedia ikut. Tanpa pikir panjang dan meminta restu Ibunya Aldi setuju dan menerima tawaran pekerjaan itu. Selesai berkemas Aldi segera meluncur ke tempat ia dan Budi janjian. Saat keluar dari kamarnya Aldi berpapasan dengan Ibunya.
“Aldi? kamu mau ke mana?”
“Aldi mau kerja Bu.” Aldi mempercepat langkahnya.
“Tunggu Nak. Kamu mau kerja di mana? kenapa kamu tidak bilang sama Ibu?”
“Aku kerja di mana itu bukan urusan Ibu. Ibu kan seharusnya senang karena aku sekarang nggak akan ngganggur lagi. Dan satu lagi Bu, dengan atau tanpa restu Ibu Aldi akan tetap pergi.” Aldi telah sampai di depan pintu rumahnya. Sebentar memandangi Ibunya. Wajah Ibunya terlihat sedih dan juga lelah.
Tidak, aku tidak akan terpancing dengan wajah memelas Ibu. Ini adalah kesempatan untukku dan aku tidak akan menyia-nyiakannya, gumam Aldi dalam hati. Ia mengarahkan kembali pandangannya ke depan, tempat masa depannya berada.
Handphone di saku celananya bergetar. Sms dari Budi.
Al, aku udah di gang rumah kamu nih. Buruan ke sini.
Cepat Aldi mengirim balasan. Ok. Aku udah OTW kok . Tunggu.
Aldi berlari sepanjang jalan. Mengabaikan teriakan Ibunya.
Benar saja, Budi sudah menunggu Aldi di gang rumah Aldi. Budi bersandar di mobil
yang terlihat mewah. Tampilan Budi juga sangat rapi tidak kalah dengan orang kantoran.
“Hai, Bud. Sorry banget telat. Ada masalah sedikit tadi.” ucap Aldi. Mengajak Budi bersalaman.
“Nggak apa-apa kok. Santai aja Al.”
“Wah, tampilan kamu sekarang beda. Kayak orang kantoran. Sebenarnya kamu kerja di mana sih?” tanya Aldi penasaran.
“Ntar juga kamu tahu sendiri. Kamu juga bisa seperti aku, punya mobil, pakaian keren, uang banyak. Ya udah kita berangkat sekarang udah ditunggu client.” Budi mengajak Aldi masuk ke dalam mobilnya. Sekejap mobil mewah itu meluncur ditengah kepadatan kota. Lima belas kemudian mereka telah sampai di tempat tujuan. Aldi dikenalkan dengan rekan kerjanya. Tugas Aldi mudah saja yaitu hanya mengantarkan barang kepada pemesan. Apa isi barang itu pun Aldi tidak tahu dan tidak mau tahu. Yang penting baginya adalah dia bisa dapat uang.
Dua bulan sudah Aldi bekerja bersama Budi. Uang dari kerjanya itu telah terkumpul lumayan banyak. Sekarang Aldi sudah punya rumah sendiri meski masih terbilang kecil. Tidak apa-apa nanti kalau uangku sudah terkumpul lagi aku akan beli rumah yang lebih besar, ucap Aldi pada dirinya sendiri.
Aldi menilik jam dipergelangan tangannya. Pukul satu siang. Jam tiga nanti Aldi ada janji bertemu dengan seorang client dari luar negeri. Budi mengabari agar Aldi tidak terlambat karena clientnya ini adalah client istimewa. Segera Aldi meluncur ke tempat Aldi dan client itu membuat janji bertemu.
*****
Di rumah Aldi, Ibu Aldi sedang melaksanakan salat zuhur. Kedua tangan keriput itu terangkat ke langit.
“Ya Allah, lindungilah anak hamba, Aldi. Lindungilah dia di mana pun dia berada. Bawalah dia kembali kepada hamba ya Allah. Hamba sangat merindukannya. Hamba sangat merindukannya…” air mata mengalir membasahi mukena dan hati Ibu Aldi. Seorang Ibu yang merindukan anak semata wayangnya.
Setiap hari Ibu Aldi tidak pernah berhenti mendoakan Aldi. Berharap Aldi akan pulang dan mereka bisa bersama seperti dulu lagi.
*****
Pukul tiga tepat client istimewa itu datang. Untung saja Aldi masih bisa bahasa inggris walau sedikit dan bantuan Budi yang kemarin mengajarinya jadi komunikasinya dengan client istimewa itu tidak terlalu menjadi masalah. Pukul tiga lebih lima belas menit pertemuan itu telah selesai. Aldi hendak pamit pulang, namun assisten client itu mencegah.
“Kenapa terburu-buru Tuan? Bagaimana jika Tuan Aldi bergabung bersama kami? Malam ini Boss saya akan mengadakan acara besar di sini. Bagaimana?”
“Tidak, terima kasih. Saya masih ada urusan lain. Sampaikan maaf dan terima kasih kepada Boss Anda untuk undangannya. Semoga acara nanti malam sukses. Saya permisi.” Aldi tersenyum. Melangkah santai meninggalkan tempat itu. Lima langkah Aldi berjalan terdengar suara ledakan dari belakangnya. Ledakan yang sangat hebat. Tubuh Aldi terlempar jauh dan menghantam dinding. Mata Aldi terasa sangat berat dan akhirnya Aldi pingsan.
Sayup-sayup Aldi mendengar suara. Banyak suara di sekelilingnya. Aldi menyipitkan matanya, mengedarkan pandangan. Ruangan tempat ia berada telah porak poranda. Meja, kursi, lampu hias berserakan. Dinding dan kaca hancur. Derap langkah sepatu berdengar sangat jelas.
“Lapor. Buronan berhasil kabur. Tapi kaki tangannya berhasil ditangkap.”
“Bagus. Bawa mereka semua ke markas.”
“Siap.”
Aldi mematung di tempatnya. Tubuh Aldi yang tertimbun puing-puing meja dan kursi membuat keberadaannya tidak terlihat. Dahinya terlipat. Keringat dingin mengucur deras. Jadi client istimewa itu adalah buronan? tanya Aldi. Dua orang bertubuh besar itu melangkah pergi. Pelan-pelan Aldi menyelamatkan diri. Mengendap endap keluar dari tempat itu. Aldi harus  menghubungi Budi dan meminta penjelasan darinya. Pasalnya Budi tidak pernah bilang kalau orang yang ia temui tadi adalah seorang buronan dan dua orang bertubuh tegap itu pastilah polisi. Telpon Aldi tidak diangkat. Aldi semakin resah. Tidak mungkin dia bertahan di sini. Mereka pasti akan menemukan dirinya. Tiba-tiba Aldi teringat kampung halamannya dan Ibunya. Entah kenapa tiba-tiba Aldi merasa sangat merindukan Ibunya. Seakan mereka telah terpisah
ribuan tahun.
*****
Aldi berjalan gontai menuju kampung halamannya. Mobil pinjaman Budi ia tinggalkan di tempat pertemuannya dengan client istimewa itu. Air mata masih terus mengalir dari sudut matanya. Bergunung penyesalan terbeban di kedua pundaknya. Aldi kembali teringat masa lalunya. Masa ketika ia sering marah pada Ibunya, memaki Ibunya dan membentak Ibunya. Rasa penyesalan begitu menghujam batinnya.
“Ibu…Ibu…Ibu.” bibir Aldi tidak berhenti mengucapkan nama Ibunya. Diabaikannya kakinya yang kesemutan, tubuhnya yang letih dan keringat yang terus bercucuran, Aldi ingin bertemu Ibunya. Meminta maaf atas semua kesalahannya.
Setelah lebih dari dua jam berjalan kaki akhirnya Aldi telah sampai di depan rumahnya dulu. Rumah itu masih sama seperti saat terakhir kali Aldi tinggalkan. Aldi menarik napas dan membuangnya pelan. Ragu-ragu Aldi berjalan mendekati rumah itu. Mengetuk pintu.
“Bu, Aldi pulang. Ibu.” ucap Aldi. Namun tidak ada seseorang yang membukakan pintu untuknya.
Apakah Ibu sudah tidak mau bertemu denganku lagi? batin Aldi.
Lama Aldi menunggu. Tiba-tiba Aldi mendengar benda jatuh dari dalam rumah.
“Ibu, ini Aldi Bu. Buka pintunya. Ibu.” ucap Aldi lagi. Mengetuk pintu lebih keras. Aldi memutuskan untuk mendobrak pintu.
Aldi masuk ke dalam rumah yang gelap tanpa cahaya. Aldi menyusuri ruangan dalam kegelapan. Mencari Ibunya. Aldi yakin Ibunya ada di dalam rumah. Terus Aldi memanggil Ibunya.
“Ibu. Ibu. Ibu di mana?”
“Aldi kaukah itu Nak? Uhuk uhuk.”
“Ibu? Ibu di mana? Ini Aldi Bu. Anak Ibu.”
“Ibu di sini Nak. Uhuk uhuk.”
Aldi melangkah masuk ke dalam kamar Ibunya yang gelap.
“Ibu.” Aldi menghambur memeluk Ibunya. Menangis dalam pelukannya.
“Alhamdulillah, kamu pulang Nak.”
“Maafkan Aldi Bu. Maafkan Aldi karena sudah meninggalkan Ibu. Maafkan Aldi Bu.”
“Ibu sudah memaafkanmu Nak. Tidak ada orangtua yang membenci anaknya, Aldi. Ibu senang akhirnya kamu pulang. Uhuk uhuk.”
“Ibu sakit?”
Ibu Aldi menggeleng, “Tidak. Ibu cuma kecapekan saja. Kamu sudah makan Nak?”
“Sudah Bu.” Aldi mengangguk. Mencium punggung tangan Ibunya.
Air mata bahagia mengalir dari sudut mata Ibu Aldi. Beliau sangat bahagia bisa melihat anaknya dan bisa berkumpul bersama lagi dengan anaknya.
“Ya Allah, terima kasih Engkau mengizinkan hamba berkumpul kembali dengan anak hamba, Aldi. Terima kasih Engkau telah memberikan cahaya kasih-Mu untuk anak hamba. Bimbinglah dia agar bisa selalu berada di jalan-Mu ya Allah. Aamiin.”
Adzan magrib menggema seiring matahari yang terbenam di kaki langit. Aldi membimbing Ibunya mengambil wudhu. Kemudian mereka melaksanakan salat magrib bersama. Maha Besar Allah atas segala kuasa-Nya.
[*]
Kudus, 30 Juni 2014

(masuk dalam Antologi event "kekuatan do'a" oleh Mafaza Media)