Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Minggu, 10 Agustus 2014

Cerpen, Sepucuk Surat Untuk Cintaku




Sepucuk Surat Untuk Cintaku
Oleh : Nuril Islam

Dalam menjalani sebuah hubungan, rasa saling percaya itu sangatlah penting. Dengan rasa saling percaya itulah suatu hubungan akan awet, tidak kadaluarsa. Seperti halnya aku yang percaya sepenuhnya padamu lelakiku. Tidak secuilpun aku meragukan cintamu kepadaku. Dan aku yakin kau pun sama percayanya padaku. Benar, kan?

Selamat pagi cinta. Apa kabarmu hari ini? apakah semalam kau tidur nyenyak? apakah kau memimpikan aku?
Lagi-lagi, aku berdialog dengan bayanganmu. Seolah aku sedang bersamamu. Menghabiskan sarapan di meja makan seperti pagi yang dulu telah kita lewati bersama.
Hari ini adalah hari ke lima puluh sejak kau pergi ke tanah rantau. Meninggalkan aku, cintamu di tanah kelahiranmu ini. Kau tahu cinta, setiap malamku terasa sangat menyesakkan. Sulit rasanya diriku untuk memejamkan mata walau hanya sekejap. Aku mengkhawatirkanmu cinta.
Apakah kau tidur nyenyak? apakah kau kedinginan? apakah kau baik-baik saja? Aku hanya bisa menatap kosong langit malam yang bertabur bintang. Kau ingat, dulu kita sering duduk berdua di teras rumah sederhana kita. Memandangi langit berbintang bersama. Bercerita tentang keluarga kecil kita. Entah kenapa aku merindukan saat-saat itu. Saat bersamamu, menyandarkan kepalaku di bahu kekarmu. Yang kemudian kau memelukku, membuatku merasa sangat nyaman.
Aku selalu berdo’a agar kau baik-baik saja di sana. Aku akan meminta pada Tuhan untuk menjagamu dua puluh empat jam nonstop cinta. Meminta agar Dia menjaga setiap langkahmu yang menjejak di tanah orang. Aku akan menunggumu kembali cinta. Percayalah. Aku akan bertahan demi cintaku padamu. Demi mimpi indah kita.
Aku sempat meragukan kemampuanku sendiri. Aku sempat merasa pesimis dengan keadaan kita. Apakah aku mampu bertahan? dengan tenang kau menjawab, “ini adalah ujian untuk kita, sayang. Bertahanlah. Aku akan segera kembali padamu. Aku janji.”
Kalimatmu itu bagaikan oase di tengah gurun pasir, begitu menyejukkanku. Ya, mungkin kau benar cinta. Mungkin ini adalah ujian untuk kita. Ujian untuk menguatkan anugerah rasa yang diizinkan Tuhan hadir di hati kita.
Baiklah cinta, aku akan bertahan dan aku minta bantulah aku agar aku bisa melewati ini semua. Tetaplah menasehatiku dengan kata-kata bijakmu. Tetaplah rajin menghubungiku agar rasa curiga dan cemburu tidak mengompori untuk memusuhimu. Aku yakin, bersamamu semua akan terasa sangat mudah.  
Seperti kata pepatah, semakin tinggi pohon semakin kencang angin yang berhembus. Aku mendapatkan kabar burung tentangmu cinta. Kabar yang sejujurnya tidak ingin aku dengar, tidak ingin aku tahu. Tapi rasa penasaranku jauh lebih besar dibandingkan rasa takutku.
Apakah kabar itu?
Katanya kau telah memiliki cinta yang lain di sana. Airmataku seketika tumpah mendengar kabar itu. Tetesan airmata yang jatuh membawa serta rasa sakit yang hinggap di hati. Aku tidak bisa berpikir dengan jernih. Aku seolah membenarkan kabar itu. Toh, tidak ada yang tahu pasti apa yang kau lakukan di sana. Apa yang kau kerjakan di sana.
Benarkah cintaku telah berpindah ke lain hati? Perih rasanya aku membayangkan kemungkinan itu.
Dan untuk pertama kalinya aku merasa cemburu. Rasa cemburu yang sempurna membakar seluruh raga dan hatiku. Dan itu semakin terasa perih saat aku tidak bisa menghubungimu untuk menanyakan kebenaran berita itu. Dua hingga lima kali aku terus menghubungimu. Tapi yang menjawab bukan kau melainkan operator telpon bersuara khas itu. Kau ke mana cinta? kenapa kau tidak menjawab telponku? Tidakkah kau tahu, aku di sini dihinggapi rasa cemburu level lima belas.
Pagi, siang dan malam aku resah menanti penjelasanmu. Tapi penjelasan itu tak kunjung kau berikan dan aku memutuskan untuk berhenti berpikir buruk tentangmu dan tentang kabar itu. Aku pasrah karena aku merasa lelah curiga padamu. Aku mencoba mengikhlaskan semuanya pada Tuhan. Biarlah Dia yang menunjukkan jalan padaku cinta.
Saat menulis surat ini pun, airmataku berlinang karena rasa rinduku padamu cinta. Juga karena kabar terkutuk itu yang semakin hari semakin mempersempit gerak langkahku. Aku tetap berharap kau akan menjelaskan dan mengatakan bahwa kabar itu tidak benar. Bahwa kabar itu bohong. Bahwa kau tetap lelakiku yang dulu, yang selalu mencintaiku. Aku akan menunggu saat itu.
Lelakiku, aku akan tetap bertahan di sini dengan segenap cinta yang kupunya dan akan terus kujaga keutuhannya untukmu.
Dari aku yang merindumu,

[ * ]
Kudus, 09 Agustus 2014

Minggu, 01 Juni 2014

Cerpen, Janji




Janji
Oleh : Nuril Islam

Aku fikir cinta pada pandangan pertama itu hanya ada di film dan sinetron. Tapi ternyata kisah itupun ada di kehidupan nyata dan aku adalah salah satu orang yang menyimpan kisah itu.
“Pagi Nay.” Sapaan hangat dari seorang yang kucintai. Namanya Tristan. Pemuda berpostur tubuh tinggi, berkulit sawo matang, wajah berkharismatik dan senyum yang selalu menawan. Dialah cinta pertamaku dan semoga akan menjadi cinta terakhir dalam hidupku.
Kami pertama kali bertemu setahun yang lalu. Tanpa sengaja di sebuah pesta pernikahan seorang teman. Tristan orangnya menyenangkan membuatku nyaman berada di dekatnya meski waktu itu kami baru pertama kali berkenalan. Pertemuan itu berlanjut di hari-hari berikutnya. Setiap sabtu malam, Tristan sering mampir ke rumah. Ngobrol berdua di teras depan. Membicarakan banyak hal. Tristan tidak pernah kehabisan topik untuk bahan pembicaraan. Masalah kucing adiknya yang baru melahirkan 4 anak bisa menjadi topik pembicaraan yang seru.
Tepat seminggu kedekatan kami, Tristan menyatakan perasaannya padaku. Di bawah langit malam yang bertabur bintang dan disinari cahaya bulan purnama.
“Nay, mungkin…aku terlalu cepat mengatakan ini. Tapi aku tidak sanggup lagi untuk memendamnya. Aku...aku mencintaimu Nay.” Tristan meraih jemari tanganku. Menggenggamnya erat.
Aku tersipu mendengarkan kalimat cintanya padaku. Aku mengangguk pelan saat dia memintaku untuk menjadi kekasihnya. Aku juga mencintaimu Tristan, bisikku pelan.
Semakin tinggi pohon semakin kencang angin yang berhembus. Dua bulan kami menjalin hubungan, satu masalah datang menghadang. Hubunganku dengan Tristan tidak mendapatkan restu dari Mamanya.
Keluarga Tristan tidak menerimaku lantaran latar belakang keluargaku. Ayahku yang hanya seorang buruh pabrik dan Ibuku seorang pedagang kecil. Sedangkan orang tua Tristan adalah pengusaha kaya raya. Mereka merasa Tristan tidak pantas mendapatkan jodoh sepertiku. Tidak pantas. Oh Tuhan, kuatkan aku menerima semua hinaan ini.
“Aku akan terus membujuk Mama agar Mama mau menerimamu, Nay. Aku janji.” Tangan Tristan erat menggenggam jemariku. Aku mengangguk. Menyembunyikan sakit hatiku. Tidak. Aku harus kuat. Demi cinta kami.
Satu masalah belum selesai datang lagi masalah baru. Tristan akan pergi ke Singapura. Membantu Papanya mengurus perusahaan mereka yang ada di sana. Aku menangis saat Tristan berpamitan padaku. Entah bagaimana aku menjalani hari tanpa dia di sampingku. Semua akan terasa hambar tanpa kehadiran Tristan.
“Nayla, aku janji aku akan segera pulang. Setelah semuanya lancar aku akan kembali padamu. Percayalah padaku, Nay.” Tristan memelukku. Aku semakin terisak dalam pelukannya. Aku tidak mau berpisah dengannya. Tristan menatapku. Tatapan mata yang melenyapkan kekhawatiran yang detik lalu menyergapku.
“Semua akan baik-baik saja. Ok!” Aku mengangguk. Berusaha tersenyum. Menghapus sisa airmata di pipi. Aku tidak boleh bersedih. Tristan akan kembali. Pasti akan kembali.
Selama kurang lebih empat tahun Tristan akan berada di Singapura. Menyelesaikan permasalahan perusahaan keluarga mereka. Itu berarti selama itu pula kami akan menjalani hubungan Long Distance.
“Aku akan rajin mengabarimu Nay. Kamu jangan khawatir. Aku tidak akan berpaling sekalipun ada seratus gadis cantik di sini. Kamu tetap yang tercantik Nay.” Ucap Tristan padaku. Komunikasi pertama kami sesampainya ia di Singapura.
“Gombal.” Timpalku. Tristan tertawa di ujung telpon.
“Naylaku sayang. Aku harus buktikan apa lagi agar kamu percaya kalau hanya kamu yang aku cinta? Hm?”
“Mmm, apa ya?” Pura-pura berfikir.
“Apapun akan aku lakukan untuk membuktikan kesetiaanku.”
“Iya aku percaya.” Hening sejenak.
“Mmm, Tristan...” Aku menggigit bibir. Bingung antara melanjutkan kalimatku atau tidak.
“Ya Nay?” Sunyi.
“Aku mencintaimu.” Kataku lirih.
“Aku juga. Aku sangat mencintaimu Nayla. Aku tidak akan mengkhianati cinta kita. Semua hanya masalah waktu. Kita pasti akan bersama lagi.”
Aku melirik jam di dinding kamar. Pukul sembilan malam. Malam semakin larut. Bintang-bintang tetap bersinar indah di langit. Ditemani bulan yang bulat sempurna.
“Sudah malam Nay. Lebih baik kamu tidur.” Kata Tristan memecah kesunyian.
Aku mengangguk. “Selamat tidur Tristan.”
“Selamat tidur.”
***
Tristan memenuhi janjinya. Setiap petang menghubungiku. Berbagi cerita tentang kegiatan masing-masing. Tristan dengan kesibukannya di kantor dan aku dengan kesibukanku sebagai pegawai toko bunga.
Hingga tahun kedua hubungan kami berjalan lancar. Teknologi yang semakin canggih memudahkan kami untuk selalu berkomunikasi. Menjadi penawar rasa rindu yang menggunung di dada.
Bulan Desember di tahun ketiga aku memutuskan untuk keluar dari toko bunga. Memulai bisnis kecil-kecilan bersama Ibu. Membuka toko sembako di depan rumah. Menggunakan semua tabungan yang kumiliki sebagai modal awalnya. Aku sendiri yang membeli stok barang sedang ibu yang menjaga warung. Memesan beras, telur, minyak goreng, semua kebutuhan harian. Kesibukan itu membuatku jarang menghubungi Tristan. Meski sekedar mengirim pesan singkat. Aku semakin tenggelam dalam dunia baruku.
Bulan Februari tahun keempat. Bisnis toko sembako yang aku rintis mulai membuahkan hasil. Semakin hari semakin ramai pembeli. Ibu terlihat bahagia. Setia melayani pembeli. Sesekali bergurau. Tertawa bersama. Aku tahu Ibu pasti lelah karena dari tadi pagi tidak berhenti melayani pembeli. Ibu selalu menolak saat aku menawarkan diri untuk menggantikan.
“Tidak apa-apa Nay. Ibu senang melakukannya. Kamu kerjakan saja yang lain.” Menghela nafas. Mengalah. Kalau sudah begitu aku bisa apa. Aku melangkah meninggalkan Ibu. Mengecek stok barang dagangan.
“Mau tidak mau besok aku harus ke Toko Koh Acong. Stok beras tinggal segini. Tidak akan cukup.” Aku mengusap keringat dengan punggung tangan. Menulis barang-barang lain yang juga mulai habis. Menghela nafas. Meraih handphone. Mencari nomor Koh Acong. Gerak jemariku terhenti. Tristan. Aku tertegun di sana. Apa kabar Tristan? Sudah lama aku tidak menghubunginya.
Matahari bersinar sangat terik. Siang yang melelahkan. Meletakkan buku catatan di atas meja. Menjauh dari keramaian. Mencoba menghubungi Tristan. Jantungku berdegup kencang. Entah kapan terakhir kali kami bertegur sapa. Setahun yang lalu? atau mungkin dua tahun yang lalu? Aku menggigit bibir. Grogi. Menarik nafas panjang. Tidak ada yang mengangkat telponku. Aku mengeluh kecewa. Menghela nafas lagi. Mungkin Tristan sedang sibuk, pikirku.
Keesokan harinya. Aku telah bersiap ke toko Koh Acong. Buku catatan lekat di tangan. Aku menyalami Bapak dan Ibu yang masih sarapan.
“Nayla berangkat sekarang ya Bu.”
“Hati-hati Nay. Bawa motornya nggak usah ngebut-ngebut.”
“Iya Bu.” Tersenyum.
“Oh ya Nay. Obat Bapak sudah mau habis. Nanti mampir ke apotek ya Nduk.” Ibu menyerahkan selembar kertas padaku. Resep obat Bapak.
“Iya. Nayla berangkat sekarang.” Aku meraih kunci motor. Mengenakan helm.
Bapak sudah tidak bekerja sejak dua bulan yang lalu. Asma Bapak semakin parah. Dokter meminta Bapak untuk istirahat di rumah. Aku menggantikan posisi Bapak mencari nafkah. Bekerja lebih keras untuk keluarga kecil kami.
Sebuah mobil hitam mengkilap memasuki halaman rumah. Seorang Ibu keluar dari dalam mobil. Wajahnya acuh. Melangkah mendekatiku. Dahiku terlipat. Berusaha mengingat wajah itu.
“Selamat pagi. Cari siapa Bu?” Tanyaku ramah.
“Tidak ada yang berubah. Masih sama seperti dulu.” Ibu itu berbicara pada dirinya sendiri. Mengabaikan pertanyaanku. Memandang sekilas padaku. Siapa sebenarnya Ibu ini.
Oh Tuhan. Ibu ini…Bu Rina. Mama Tristan. Spontan aku melirik ke arah mobil hitam yang terparkir di halaman rumah. Mencari sosok Tristan. Tidak ada. Tristan tidak ada di dalam mobil. Aku menghela nafas. Kecewa.
“Bu Rina? Benar Bu Rina kan. Apa kabar Bu? Lama tidak bertemu. Ehh, mari masuk Bu.” Aku mengulurkan tangan. Bu Rina mengibaskan tangannya.
“Saya tidak lama. Saya hanya mau menyerahkan ini. Titipan dari Tristan.” Bu Rina menyerahkan amplop coklat padaku. Titipan Tristan?
Bu Rina melangkah meninggalkanku yang terpaku. Anggun melangkah masuk ke dalam mobil.
“Jalan Pak.” Kata Bu Rina pada sopirnya. Aku tersenyum pada Bu Rina sebelum pintu mobil tertutup. “Terima kasih Bu.”
Aku melangkah kembali ke ruang tamu. Menunda jadwalku ke toko Koh Acong. Rasa penasaran di dadaku butuh jawaban. Apa isi ampop ini? Perlahan aku membukanya. Kumpulan foto. Foto pernikahan. Aku mengamati foto itu satu persatu. Ini…lidahku kelu. Benarkah apa yang aku lihat ini? Ini foto pernikahan Tristan. Mataku terasa panas dan sekejap air mata telah membuncah membasahi pipiku. Benarkah ini? Tristan? Dadaku terasa sesak. Inikah jawaban atas telponku kemarin? Karena ini Tristan tidak menjawab telponku? Air mataku semakin deras mengalir. Sakit. Hatiku terasa ditusuk pisau berkarat. Perih.
Aku berlari ke kamar. Mengabaikan Ibu yang bertanya ada apa. Aku tidak percaya ini. Begitu tega Tristan melakukan ini? Kami bahkan belum putus. Kenapa Tristan tidak mengatakannya langsung padaku? Kenapa justru Mamanya yang datang menyerahkan foto-foto itu? Hatiku berontak. Menolak semua kenyataan ini. Aku membenamkan wajah di dalam bantal. Tersedu. Mengunci diri di kamar hingga sore hari.
Ibu mengetok pintu kamarku. Aku bangkit. Menghapus sisa air mataku. Melihat sekilas wajahku di cermin. Mengenaskan.
“Nay, ada apa? Cerita sama Ibu.” Ibu menggenggam tanganku. Aku menatap mata Ibu. Ibu, lihatlah anakmu ini terluka hatinya karena cinta. Apa yang harus aku lakukan Ibu? Aku menghambur memeluk Ibu. Menangis.
“Tristan sudah menjadi milik orang lain. Tidak pantas untukmu memikirkannya. Ikhlaskan Nay.” Ibu membelai rambutku lembut.
Aku menggeleng. “Tapi hati kecil Nay mengatakan lain. Tristan sudah berjanji menjaga cinta kami Bu. Berjanji untuk setia pada Nay.”
“Jika memang Tuhan menakdirkan kalian berjodoh maka itulah yang akan terjadi anakku. Ya sudah lebih baik kamu mandi dulu. Biar segar.” Ibu meninggalkanku sendiri.
Foto-foto itu tersebar di atas kasur. Aku meraihnya dengan hati terluka. Memasukkan kembali ke dalam amplop.
***
“Mau ke mana Nay?” Ibu bertanya.
“Membeli obat Bapak Bu. Kan tadi Ibu bilang sudah hampir habis. Untuk stok di toko, tadi Nayla sudah telpon Koh Acong. Besok diantar ke rumah.”
“Kamu sudah tidak apa-apa. Apa tidak besok saja beli obatnya? Ibu khawatir.”
Aku tersenyum, “Nayla akan baik-baik saja Bu. Nayla akan langsung pulang kok. Nayla berangkat sekarang ya.” Aku mencium punggung tangan Ibu. Meraih kunci motor. Mengenakan helm.
Kotaku selalu ramai meski malam hari. Pedagang kaki lima menggelar lapak di tepi jalan. Tersenyum riang melayani pembeli. Suara deru kendaraan saling beradu. Menyemarakkan malam. Bintang-bintang tetap setia menemani rembulan. Berbagi  pelita di tengah gulita langit malam. Dari alun-alun kota aku berbelok ke kiri. Melewati pedagang roti bakar. Kemudian berbelok ke kanan. Berhenti di depan apotek 24 Jam.
“Cari apa Mbak?” Seorang penjaga mendekatiku. Aku tersenyum. Menyerahkan kertas resep obat kepadanya.
“Tunggu sebentar ya Mbak.” Aku tersenyum lagi. Penjaga itu menghilang ke dalam ruangan lain. Lima menit kemudian kembali dengan membawa obat pesananku. Aku menyerahkan uang padanya.
“Terima kasih Mbak.” Ucapku.
  Aku memasukkan obat Bapak ke dalam tas. Berjalan tergesa-gesa keluar hingga menabrak orang di depanku. Aku terjatuh.
“Mbak tidak apa-apa. Mari saya bantu.” Sepasang tangan terjulur ke arahku.
“Tidak apa-apa. Terima kasih.” Aku melihat orang itu. Oh Tuhan. Tristan. Aku menoleh. Perempuan itu? Perempuan yang berdiri di samping Tristan tersenyum tipis padaku. Tangannya mengelus perutnya yang semakin besar. Perempuan itu hamil?
“Nayla? Kamu tidak apa-apa Nay? Sedang apa kamu di sini?” Tristan menggengam lenganku. Mata itu tetap sama. Aku tidak sanggup. Aku melepaskan genggaman Tristan. Berlari menghindarinya. Aku tidak sanggup melihatnya. Tristan…dia sebentar lagi akan menjadi ayah dari anak yang dikandung perempuan itu. Mataku telah berurai air mata. Cepat aku mengenakan helm. Mengabaikan Tristan yang berteriak memanggil namaku.
Maaf Tristan, semua ini terlalu menyakitkan untukku. Melihatmu bersamanya akan menambah luka di hatiku. Lebih baik aku pergi.
Bulir-bulir air mata terus beranak sungai di mataku. Merembes hingga ke dalam hati. Inikah akhir dari penantianku? Inikah jawaban atas semua kesetiaanku? Oh Tuhan, Tubuhku terasa lemas. Tak sanggup lagi berdiri menapak tanah. Luka itu semakin dalam dan begitu menyakitkan.
Aku menghapus air mataku. Takut Ibu akan melihatnya.
“Sudah pulang Nay.” Ibu menyambutku di depan pintu.
Aku mencium punggung tangan Ibu. “Nayla ke kamar ya Bu.” Ibu mengangguk.
Handphoneku berdering. Tristan menelponku. Untuk apa Tristan menelponku? Dia sudah punya istri dan sebentar lagi akan menjadi seorang ayah tidak pantas ia menghubungiku lagi. Aku mengabaikan handphoneku yang terus berdering.
Aku membenamkan wajah di dalam bantal. Memaksa diri untuk tidur. Berharap semua yang terjadi hari ini adalah mimpi dan ketika aku terbangun Tristan akan menyapaku dengan senyum merekah di bibirnya.
Sia-sia. Aku tidak bisa memejamkan mata walau hanya satu menit. Aku menghela nafas. Menatap langit-langit kamar. Mengenang kembali masa-masa itu. Pertemuan pertama kami, obrolan di teras rumah, kata cinta itu, keberangkatan Tristan ke Singapura, dan foto-foto itu.
Apakah aku harus melupakan Tristan? Mengubur dalam-dalam semua rasa ini? Aku masih mencintainya. Oh Tuhan, apa yang harus aku lakukan.
Matahari kembali menyapa kotaku pagi ini. Mengintip dari balik pepohonan. Menebar hangat dari celahnya. Suara ayam berkokok terdengar merdu. Bersahutan dengan suara cicit burung.
Satu minggu yang melelahkan. Lelah menata kembali puing-puing mimpi yang sempat hancur. Merangkainya dengan bersimpah air mata. Satu minggu aku menenangkan diri. Mencoba berdamai dengan kenyataan pahit itu.
Aku tengah menemani Ibu memasak ketika suara itu datang. Tersenyum hangat menyapaku. Menatapku dengan tatapan sama seperti dulu. Untuk apa Tristan kemari. Aku melirik ke punggungnya. Mungkin saja ia membawa serta perempuan itu. Isterinya. Tidak. Tristan datang sendiri. Aku menghela nafas. Menguatkan diri. Hatiku jauh lebih baik sekarang meski luka itu tetap saja terasa.
“Selamat ya Tristan atas pernikahanmu. Maaf aku tidak hadir di hari bahagiamu.” Kataku memecah kesunyian. Tersenyum canggung.
“Aku datang ke sini ingin menjelaskan semuanya padamu Nay. Tentang foto-foto itu dan perempuan yang kamu lihat bersamaku tempo hari di apotek.” Tristan menatapku. Mata itu tetap sama meski sekarang terlihat redup.
“Foto-foto itu hanyalah rekayasa Mamaku Nay.” Lanjut Tristan.
Rekayasa? Untuk apa? Aku mengernyitkan dahi, tidak mengerti.
“Mama tahu kalau aku masih menjalin hubungan denganmu. Mama sengaja memberikan foto itu dan berharap kau akan membenciku dan melupakanku. Foto itu adalah foto pernikahan Tio, kakakku. Dan perempuan yang kau lihat bersamaku adalah Tia, isteri kakakku. Ini semua hanya salah paham Nay. Malam itu aku menemani Tia membeli obat dan tanpa sengaja bertemu denganmu di sana. Aku ingin menjelaskannya padamu tapi kamu buru-buru pergi.”
“Aku ke sini mewakili Mama untuk meminta maaf padamu. Mama merasa sangat berdosa padamu. Apakah kamu masih membuka pintu maafmu untuk Mama Nay?” Kalimat Tristan berhenti. Mata itu berkaca-kaca.
Aku mengangguk. Aku sudah melupakan hal itu. Aku tahu Bu Rina sangat menyayangi Tristan. Beliau hanya ingin anaknya bahagia meski caranya keliru.
“Nay, boleh aku memegang tanganmu?” Pinta Tristan. Aku mengangguk pelan. Sepasang tangannya menggapai jemariku. Menggenggamnya erat.
“Maafkan aku karena dua tahun ini mengabaikanmu. Tidak menelponmu. Tidak menanyakan kabarmu. Maafkan aku Nay.”
Aku menggeleng, tidak apa-apa.
“Aku mencintaimu Nay. Sama seperti empat tahun yang lalu. Perasaan di hatiku tidak berubah sedikitpun.” Tristan mencium punggung tanganku. Aku tersipu. Menyunggingkan senyum padanya.
“Aku juga mencintaimu.” Jawabku lirih.
“Nay, Mama mengundangmu untuk makan malam bersama. Kamu bisa datang kan?”
Aku mengangguk.
“Nanti aku akan menjemputmu. Kalau begitu aku pamit pulang dulu.” Tristan beranjak dari tempat duduknya. Berpamitan pada kedua orang tuaku.
Pukul 19.00 tepat Tristan tiba di rumah. Ia mengenakan kemeja lengan panjang warna putih yang dilipat hingga siku. Tersenyum hangat saat melihatku. Sebelah lengannya terjulur ke arahku.
“Mari tuan putri.” Berdiri gagah seperti seorang pangeran. Aku menepuk bahunya pelan. Tersenyum kecil melihat kelakuan konyolnya itu.
Mobil Tristan melaju pelan di tengah kepadatan lalu lintas kota di malam hari. Aku diam. Memperhatikan lalu lalang kendaraan. Tidak menyadari bahwa sejak tadi Tristan memperhatikanku.
“Kamu cantik sekali malam ini Nay.” Suara Tristan membuyarkan lamunanku.
Tersenyum. “Terima kasih. Kamu juga terlihat tampan.” Aku balik memujinya. Tertawa.
Malam ini aku kembali memandang wajahmu. Melihat senyummu. Mendengarkan suara lembutmu. Kamu telah menunaikan janjimu. Janji untuk kembali kepadaku.
***
Kudus, 01 Juni 2014

Selasa, 20 Mei 2014

Cerpen, Bunga-Bunga Cinta




Bunga-Bunga Cinta
oleh : Nuril Islam

 “Apa? Bapak menerima lamaran Mas Dirga?”
Aku terhenyak di kursi sebelah Ibu. Ibu mengangguk membenarkan.
“Besok Nak Dirga dan keluarganya akan datang untuk membicarakan hari pernikahan kalian.”
Aku menghela nafas. Kenapa Bapak tidak menanyakan hal ini dulu padaku? Hatiku bahkan masih berkabung. Tanah kuburan mas Aldi pun masih basah. Ibu mendekap bahuku. Menguatkan. Mengatakan Bapak melakukan ini karena sayang padaku. Tidak ingin aku terlalu lama bersedih dengan kepergian Mas Aldi. Mengatakan bahwa aku berhak untuk melanjutkan hidup. Berhak untuk bahagia. Haruskah secepat ini?
Selepas magrib keluarga Mas Dirga datang ke rumah. Membicarakan hari pernikahanku dan Mas Dirga. Aku lebih banyak diam. Sesekali mengangguk atau menggeleng saat ditanya. Aku tahu Mas Dirga tidak pernah mengalihkan pandangannya dariku. Menatapku lekat. Aku pura-pura tidak melihatnya. Aku pamit. Mencari udara segar di teras rumah. Senja telah didekap sang malam. Bintang-gemintang menghiasi langit. Berkedip-kedip di balik pepohonan yang remang. Suara langkah kaki mendekatiku. Mas Dirga. Aku tahu dia mengikutiku.
“Boleh aku duduk?” Aku mengangguk. Diam. Kami memandangi bunga mawar yang sedang mekar di teras rumah. Memandangi bunga mawar itu aku teringat Mas Aldi. Dulu Mas Aldi sering memberiku bunga mawar. Terutama bunga mawar merah. Tak terasa sebutir air mata menggelayut di pelupuk mataku. Segera aku menghapusnya. Takut mas Dirga melihat. Semilir angin menggoyangkan kelopak mawar.
“Indah ya.”
Aku menoleh. Apa?
“Bunga mawar itu indah…seperti kamu.”
Mas Dirga menoleh menatapku.
Sedetik mata kami bertemu. Aku gelagapan.
“Iy…iya.” Aku pura-pura merapikan jilbab. Mengalihkan pandangan.
“Malam itu, sebelum Aldi benar-benar pergi dia mempunyai satu permintaan. Dia memintaku untuk menjagamu, Nay. Dan aku berjanji padanya untuk menunaikan permintaannya itu. Menunaikan janji seorang sahabat.”
Aku menggigit bibir.
Aku tahu Mas Aldi berkawan baik dengan Mas Dirga. Tapi permintaan itu…
“Karena itu Mas Dirga melamarku?”
“Ya, aku pikir ini yang terbaik. Tidak mungkin aku selalu bersamamu sedangkan kita tidak memiliki hubungan dekat.”
Aku masih mendengar perbincangan Bapak dan Ibu dengan orangtua Mas Dirga di ruang tamu. Tertawa renyah membanggakan kami, anak-anaknya. Aku menghela nafas. Tertunduk.
******
Hari pernikahanku akhirnya tiba. Lihatlah, wajah Bapak, Ibu, orang tua mas Dirga, Mas Dirga, para tamu undangan. Wajah mereka bahagia. Tapi, kenapa aku tidak sebahagia mereka? Kenapa wajahku justru tegang. Resah dan gundah. Permintaan Mas Aldi? Kenapa Mas Aldi membuat permintaan itu? Permintaan yang justru mengekangku dalam pernikahan ini. Aku mendongak. Menatap langit. Langit biru cerah. Awan putih berbaris rapi. Semilir angin membelai lembut dedaunan. Tapi hatiku terasa sempit. Menyesakkan.
Tamu undangan terus mengalir hingga hari beranjak petang. Tubuhku pegal karena seharian berdiri. Kakiku rasanya mati. Kram mungkin. Mas Dirga mendekatiku, memapahku ke kamar. Aku melirik Bapak dan Ibu yang berbisik di kejauhan.
“Lihat Bu, Nayla sama Dirga. Sudah kebelet kayaknya.” Bapak terkekeh.
“Sudah to Pak. Jangan digoda begitu. Biarkan saja mereka.”
Entah kenapa wajahku memerah. Malu. Mas Dirga tidak menggubris kalimat Bapak, terus memapahku ke kamar. Mendudukanku di pinggir ranjang. Mengambil balsem dan memijat kakiku yang kram. Tangan Mas Dirga cekatan memijit kakiku yang kram sampai sakitnya hilang.
“Masih sakit Nay?”
“Eh, udah mendingan kok Mas.”
Mas Dirga tersenyum kemudian pamit. Hendak mengambil wudhu. Salat isya’. Aku mengikuti Mas Dirga mengambil wudhu. Kamipun salat isya’ bersama untuk pertama kalinya. Ruku’ dan sujud yang menentramkan. Biasanya setelah salat isya’ pasangan suami isteri itu…tiba-tiba tubuhku gemetar.
Ya Rabb, aku belum siap untuk itu.
“Sudah malam Nay. Sebaiknya kamu tidur.”
Suara mas Dirga membuyarkan lamunanku. Mas Dirga masih duduk takzim di atas sajadahnya.
“Aku akan tidur di bawah, kamu tidur saja di atas.”
“Tapi Mas, kita kan…” Aku menggigit bibir.
“Tidak apa-apa Nay. Aku tidak mau memaksamu jika kamu belum siap.”
Aku mengangguk, terima kasih Mas atas pengertianmu.
Malam pertama kami berlalu begitu saja. Tidak selazimnya pasangan suami isteri yang baru menikah. Aku tidur di atas kasur sedang Mas Dirga tidur di bawah beralaskan sajadah.
*******
“Kita mau ke mana Mas?” aku bertanya pada Mas Dirga yang sibuk mengemasi pakaian.
“Aku sudah membeli rumah untuk kita tempati Nay. Jadi kita tidak perlu tinggal bersama Bapak dan Ibu. Pakaianmu sudah semua Nay?”
 Aku mengangguk. Mengikuti langkah Mas Dirga. Berpamitan pada Bapak dan Ibu. Sampai pagi ini aku masih berusaha untuk menghadirkan rasa itu pada Mas Dirga, suamiku. Tapi itu tidak mudah. Bahkan teramat sulit. Sama sulitnya melupakan bayang-bayang Mas Aldi. Selama perjalanan kami tidak banyak bicara. Mas Dirga lebih sibuk menyetir dan sesekali menelpon orang entah siapa. Mobil yang dikemudikan Mas Dirga berhenti di depan sebuah rumah mungil dengan taman kecil di halaman rumahnya. Mawar. Taman kecil itu banyak sekali bunga mawar. Aku mendekat. Mencium harum bunga mawar yang sedang mekar.
“Aku sengaja membuat taman kecil ini. Agar jika merasa jenuh, sedih, atau kesepian kamu bisa memandangi mawar-mawar yang indah itu.”
Aku mengucap kata terima kasih lirih. Aku melangkah masuk ke rumah. Mengedarkan pandang. Ruang tamu, ruang makan, kamar tidur, kamar mandi. Semuanya sempurna. Sempurna mengingatkanku pada Mas Aldi. Rumah ini dan setiap detailnya.
Dulu sebelum hari pernikahanku dan Mas Aldi, Mas Aldi berjanji akan membeli rumah untuk kami tempati bersama. Dan membuatkan taman kecil untukku. Tapi kecelakaan malam itu merenggut semua kebahagiaanku. Tanpa ada sisa sedikitpun. Pernikahan kami batal. Padahal undangan sudah disebar. Catering, gaun pengantin, semuanya sia-sia. Mas Aldi menghembuskan nafas terakhirnya tepat di hari pernikahan kami. Di hari yang amat kami nantikan. Mas Aldi telah pergi untuk selamanya…
Sebulan berlalu dengan cepat. Aku mulai terbiasa melihat Mas Dirga saat berlari-lari kecil keluar dari kamar mandi, mendengar tawanya saat menonton komedi di TV, berteriak saat melihat kecoa, perhatian-perhatian yang mengesankan, tapi rasa itu belum juga menyentuh hatiku. Belum juga hadir di hatiku. Apakah begitu sulit untuk jatuh cinta?
Mas Dirga sosok suami yang baik, tak jarang mas Dirga menggantikan posisiku di dapur saat aku sedang lemas karena datang bulan. Tapi aku belum bisa membalas kebaikan itu dengan sepantasnya. Aku belum bisa membalas semua perhatiannya itu dengan sepantasnya.
******
Malam beranjak naik. Suara binatang malam meraung lirih di balik semak-semak. Jam di dinding menunjuk angka sepuluh. Aku menguap. Saatnya tidur.
“Mas, aku tidur duluan ya.” Aku berjalan gontai menuju kamar. Oh ya, aku tidur terpisah kamar dengan Mas Dirga. Itu juga ide Mas Dirga. Alasannya sama seperti saat malam pertama kami dulu, “Aku tidak mau memaksamu jika kamu belum siap.” Aku mengangguk, aku memang belum siap. Aku menutup pintu kamar dan sekejap terlelap.
Pukul dua dini hari, aku terbangun. Aku mendengar suara langkah kaki mendekati kamarku. Aku merapatkan selimut. Pintu kamarku terbuka. Ya Rabb,… langkah itu semakin dekat. Satu tangan membelai rambutku. Aku gemetar. Mas Dirga? Kaukah itu? Satu tangan yang lain menyibak selimutku. Aku terperanjat. Menahan tangis.
“Mas Dirga? Sedang apa Mas di sini?” Lidahku kelu.
Mas Dirga terkejut melihatku terbangun. Mengusap wajahnya. Panik.
“Sedang apa Mas di sini? Jawab mas?” Tanyaku setengah berteriak. Aku menjauh. Merapatkan selimut. Apakah aku harus berteriak? Tidak. Kami suami isteri jadi wajar jika Mas Dirga menemuiku. Tapi aku…
“Eh, a…aku hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja Nay. Itu saja.” Mas Dirga beranjak dan melangkah keluar kamar.
“Jangan lupa kunci pintunya Nay.” Suara Mas Dirga terdengar serak. Maafkan aku Mas…
Mataku tidak mampu lagi untuk terpejam. Aku hanya membolak-balik badan di atas kasur. Tidak benar-benar tidur. Pukul tiga. Lebih baik aku Salat Istikharah, pikirku. Aku keluar kamar, mengambil wudhu. Saat kembali ke kamar, aku mendengar suara Mas Dirga. Suara tangis Mas Dirga.
“Ya Rabb, ampuni hamba-Mu yang lemah ini. Aku sangat mencintainya ya Allah. Aku hanya ingin membuatnya bahagia…”
Aku mendekap mulutku. Air bening mengalir pelan dari pelupuk mataku. Mas Dirga… Aku kembali ke kamarku. Menggelar sajadah. Sujud bersimpuh di tengah dinginnya malam. Bermunajad pada Sang Maha Pencipta.
******
Hari minggu yang cerah. Matahari baru saja terbit dari ufuk timur. Menebar hangat pada dedaunan yang membeku. Aku bergabung dengan Mas Dirga di meja makan seusai mandi. Harum nasi goreng menggelitik hidungku. Tidak ada pembicaraan. Hanya denting sendok dan piring saling beradu yang terdengar. Canggung. Hfffhh, aku harus mengatakannya. Sekarang. Aku sudah memantapkan diri untuk mengatakannya. Aku berdehem. Mas Dirga menoleh, menghentikan gerakannya. Jantungku berdegup kencang. Aku harus mengatakannya sekarang.
“Mas…aku ingin…aku ingin kita cerai.”
Aku menatap Mas Dirga. Mas Dirga balik menatapku, tajam.
“Kamu bicara apa Nay?”
“Ya, aku ingin cerai.”
 “Tapi kenapa? Allah tidak menyukai perceraian, kau tahu itu kan?”
 “Aku tahu. Tapi aku sudah tidak tahan lagi dengan semua ini. Aku sudah tidak tahan dengan semua sandiwara ini.”
Mas Dirga tertunduk.
“Tidak Nay. Aku tidak akan melakukan itu. Aku tidak akan menceraikanmu.”
“Kenapa Mas? Mas Dirga berhak bahagia dengan orang yang Mas cintai bukan menyiksa diri dengan pernikahan ini. Sudah terlalu banyak luka yang aku buat di hati Mas Dirga. Aku tidak mau lagi. Sudah cukup Mas.”
Mas Dirga menghela nafas. “Apa karena kejadian semalam sehingga kamu meminta cerai dariku? Aku minta maaf jika itu membuatmu tidak nyaman.”
Aku menggeleng, “Aku yang seharusnya minta maaf Mas. Aku tidak bisa menjalankan tugasku sebagai seorang isteri yang melayani suaminya. Aku justru membuat suamiku menderita dan tersiksa.”
Mataku mulai berkaca-kaca.
Ya Rabb, jika memang perpisahan adalah yang terbaik, bantulah kami, mudahkanlah kami melaluinya ya Rabb.
Mas Dirga melangkah pergi. Tanpa berkata apapun. Aku menangis. Entah menangis karena bahagia atau justru sedih. Aku tidak tahu.
******
Waktu melesat cepat. Hari mulai gelap. Matahari mulai tumbang di kaki langit. Siluet senja terlihat cantik. Mas Dirga belum juga pulang. Berkali-kali aku menghubunginya tapi tidak ada jawaban. Kamu kemana mas? Aku gusar. Mungkinkah Mas Dirga frustasi lalu pergi ke diskotik? lalu mabuk-mabukan? atau nekat bunuh diri? Tidak mungkin Mas Dirga melakukan itu. Tidak mungkin. Kenapa sekarang aku malah bimbang? Bukankah ini yang aku inginkan? Berpisah dengan Mas Dirga. Mengakhiri semua sandiwara bodoh ini.
Langit malam tergelar sempurna menggantikan senja. Satu persatu bintang-bintang bermunculan. Bulan sedang purnama. Bulat yang sempurna. Pandanganku tertuju pada taman kecilku. Mawar berayun pelan ditiup angin. Batang tubuhnya bergoyang-goyang seperti seorang penari. Aku teringat kalimat mas Dirga,“Aku sengaja membuat taman kecil ini. Agar jika merasa jenuh, sedih, atau kesepian kamu bisa memandangi mawar-mawar yang indah itu.” Aku masih berusaha menghubungi Mas Dirga. Tetap nihil. Operator telpon yang menjawab panggilanku. Aku mencoba menghubungi Lila, adik Mas Dirga. Mungkin saja dia tahu di mana Mas Dirga.
“Mas Dirga nggak ke rumah kok mbak. Mbak ada masalah ya?” Tanya Lila dengan polosnya.
“Tidak, Mbak dan Mas Dirga baik-baik saja. Mbak minta jangan katakan hal ini ke Ibu dan Bapak ya La. Nanti mereka khawatir. Ya?”
 “Iya mbak. Lila janji. Tapi Mbak dan Mas Dirga benar baik-baik saja kan?”
Aku menghela nafas, “Kami baik-baik saja. Sampaikan salam Mbak untuk Bapak dan Ibu ya La.” Aku menutup telpon setelah mengucapkan salam.
Pukul delapan malam. Aku masih menunggu Mas Dirga di ruang tamu. Mondar-mandir. Menyibak korden dengan resah. Berharap melihat bayang tubuh Mas Dirga di bawah cahaya lampu jalan. Pukul sembilan. Aku mulai mengantuk. Sesekali menguap. Tidak. Aku tidak boleh tidur. Pukul sepuluh. Aku sudah tidak tahan. Aku pun tertidur.
Cahaya terang menyilaukan. Aku terkerjap-kerjap. Menyipitkan mata. Sesosok tubuh berdiri di depanku. Ia mengenakan pakaian serba putih. Seperti…Mas Aldi? Benarkah itu Mas Aldi? Aku mendekat. Memanggil nama Mas Aldi. Orang itu membalik badan. Tersenyum padaku. Senyum yang aku rindukan. Mataku berkaca-kaca. Sekejap pipiku telah basah oleh airmata.
“Aku merindukanmu Mas.”
Mas Aldi hanya mengangguk. Menghapus airmataku. Seseorang memanggilku. Semakin lama suara itu semakin dekat. Itu suara Mas Dirga.
“Pergilah Nay. Lanjutkan hidupmu. Kau berhak bahagia dengan orang yang kau cintai. Pergilah Nay.”
Aku menggeleng. Tidak. Kamulah orang yang aku cintai Mas. Hanya kamu.
“Tidak Nay. Pergilah. Temui Dirga. Dia mencintaimu Nay. Tulus mencintaimu.”
Mas Aldi melangkah meninggalkanku. Mengabaikan aku yang terus memanggilnya.
“Mas Aldi, Mas Aldi, Mas…”
Aku terbangun. Astaghfirullah. Mimpi. Aku melirik jam. Pukul 04.30. Suara Adzan subuh menggema syahdu. Aku bangkit, mengambil air wudhu. Menggelar sajadah. Melaksanakan salat subuh sendiri.
******
Ragu-ragu aku melangkah ke dalam kamar Mas Dirga. Kamar itu kosong. Mataku tertuju pada deretan foto yang tertempel di almari pakaian milik Mas Dirga. Foto-foto Mas Dirga bersama Mas Aldi, foto pernikahan kami, dan selebihnya adalah foto-fotoku? Fotoku saat memandangi siluet langit senja, fotoku saat memasak di dapur, fotoku saat sedang tidur. Sejak kapan Mas Dirga mengumpulkan foto-foto ini? Aku membuka lemari. Tidak ada yang istimewa. Hanya berisi pakaian Mas Dirga. Tunggu. Aku melihat sebuah buku terselip di bawah tumpukan pakaian Mas Dirga. Aku mengambil dan membukanya.
Aku tidak tahu harus berbuat apa. Aldi memintaku menjaga Nayla. Orang yang sangat dia cintai. Aku hanya bisa mengangguk dan berjanji untuk menjaganya. Demi Aldi, sahabatku.
Hari pernikahanku dengan Nayla. Wajah itu murung. Apakah dia bahagia? Aku tidak tahu. Semula alasanku menikahi Nayla karena janjiku kepada Aldi. Aku ingin menunaikan janji itu. Tapi saat janji suci itu terucapkan, aku benar-benar jatuh cinta. Aku benar-benar mencintainya. Aku mencintai Nayla. Bunga-bunga cinta itu bermekaran memenuhi hatiku.
Aku mendekap mulut. Dadaku terasa sesak.
Malam pertama pernikahan kami. Lega rasanya. Nayla telah resmi menjadi isteriku yang sah. Salat isya’ berjama’ah. Ini kebersamaan kami yang pertama. Aku bahagia sekali. Tapi malam pertama itu terasa menyesakkan. Kami tidak tidur bersama. Aku tidak mau memaksa Nayla. Aku tahu dia belum siap. Jika aku memaksa tidur bersamanya, aku takut dia berteriak jika tanpa sengaja aku menyentuhnya. Lebih baik aku tidur di bawah. Biarlah, tidak apa-apa.    Selamat malam bidadariku…
Aku mengajak Nayla pindah ke rumah baru kami. Aku senang Nayla menyukainya. Melihat wajahnya yang damai saat mencium kuncup-kuncup mawar. Aku sengaja membuat taman itu. Aldi dulu pernah bilang kalau Nayla ingin punya taman bunga kecil di depan rumah. Dan aku ingin mewujudkan keinginannya itu. Semoga kamu menyukainya Naylaku sayang.
Aku hampir membuat Naylaku menangis. Entah apa yang merasukiku. Aku tidak bisa menahan diri. Aku mengendap-endap masuk ke dalam kamar Nayla. Aku semakin kalap saat melihat wajah Nayla yang tertidur pulas. Wajahnya terlihat sangat cantik saat tidur. Aku benar-benar hilang kendali. Tiba-tiba Nayla terbangun. Wajahnya ketakutan. Apa yang telah aku lakukan? Aku bisa saja memaksanya. Aku berhak untuk itu. Kami suami isteri yang sah. Tapi melihat wajahnya yang ketakutan aku tidak tega. Bagaimana mungkin aku akan melakukannya jika itu akan menyakiti hatinya? Maafkan aku Nayla... Aku terlalu mencintaimu. Aku tidak mau kehilanganmu.
Airmataku pecah. Membasahi seluruh hatiku. Bahuku bergetar. Aku menggenggam erat buku harian Mas Dirga.
“Assalamu’alaikum.”
Seseorang mengucapkan salam. Aku tertegun. Mas Dirga. Aku keluar kamar. Menghapus sisa air mataku. Buku harian Mas Dirga masih lekat di tanganku.
“Wa’alaikum salam.”
Mas Dirga, wajahnya lesu, letih, muram, tidak ada lagi senyum hangat yang setiap hari aku lihat. Aku menghambur memeluk Mas Dirga. Aku sesenggukan dalam pelukannya.
Ya Rabb, maafkan aku. Aku telah mengabaikan kasih yang Kau hadirkan dalam diri Mas Dirga.
Mas Dirga memandangku. Aku menunjukkan buku harian miliknya.
“Kamu membacanya Nay?”
Aku mengangguk. Menghapus ingus yang keluar dari hidungku.
“Aku memang mencintaimu Nayla. Sangat mencintaimu. Tapi aku juga tahu kalau kamu masih dan akan selalu mencintai Aldi. Mungkin dulu aku terlalu cepat mengambil keputusan untuk melamarmu sehingga kamu merasa terkekang dengan pernikahan ini.”
Mas Dirga menatapku. Tatapan itu kosong.
“Lalu?” Aku menggigit bibir.
“Aku tidak akan memaksamu untuk melanjutkan pernikahan ini.”
Mas Dirga melangkah menuju kamar. Aku mencegah.
“Mas…maaf karena Nayla pernah meminta cerai dari Mas. Apakah… apakah Mas Dirga memaafkan Nayla? Memaafkan kalimat Nayla?”
Aku tertunduk. Tidak berani menatap mata Mas Dirga.
“Maksudmu apa Nay?”
Aku menegakkan kepala. “Aku…aku tidak mau berpisah dengan Mas Dirga. Aku tidak mau lagi berpisah dengan orang yang aku cintai.”
Mas Dirga mendekat dan memelukku. Erat sekali.
“Aku tidak akan meninggalkanmu Nayla. Tidak akan.”
“Mas, Nayla punya satu permintaan. Apakah Mas mau melakukannya?”
“Apapun Nay, aku akan melakukannya. Kamu ingin aku menyeberangi samudera? Mendaki gunung tertinggi? Atau menyelam ke lautan terdalam? Aku akan melakukannya.”
Mas Dirga tersenyum jahil, menatapku mesra. Membuat pipiku bersemu merah.
“Nayla ingin Mas Dirga tetap mencintai Nayla.”
Mas Dirga memegang bahuku.
“Aku akan mencintaimu Nayla. Selalu. Karena kamu adalah bidadariku Nayla.”
Tersipu. Aku menghambur memeluk mas Dirga.
Ya Rabb, sesuatu tumbuh di dalam hatiku. Tunas kecil yang tumbuh cepat dan berubah menjadi bunga-bunga yang merekah indah. Bunga-bunga cinta. Berwarna-warni memenuhi taman hatiku. Harum wanginya abadi.
Ingin rasanya aku menghentikan waktu. Ingin tetap seperti ini. Menatap mata kekasihku, Mas Dirga. Tatapan cinta yang sempat terabaikan. Tatapan cinta tulus Mas Dirga. Dan merengkuh nikmatnya cinta dalam peluknya, selamanya…
~ 0 ~
Kudus, 18 Mei 2014